SIA-SIA

Melakukan dengan baik sesuatu yang tak dihitung, melakukan dengan setengah hati sesuatu yang dihitung. Sia-sia?

Manusia larut dalam pekerjaannya. Dalam suatu konferensi atau rapat, banyak dari mereka yang mengakhirkan waktu sholat setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Tak sadarkah kita bahwa sholat adalah amal ibadah yang pertama kali dihisab Allah?

Maka, sholatlah kamu, karena amalan itu yang akan dihisab paling utama.

Sholatlah kamu, karena sholat merupakan tali agama Allah yang membebaskanmu dari perbuatan kufur.

Sholatlah karena itu adalah media untukmu berbicara pada Rabb-mu

Sholatlah kamu karena ia menjadikan hatimu lapang.

Sebab, kamu tak akan rela membiarkan telponmu berdering terlalu lama ketika mendapat telpon dari yang kau Cinta. Sebab kamu tak ingin membuat-Nya menunggu. Sebab kamu ingin segera berbicara dan bercerita pada-Nya. Sebab disana kamu bisa berkeluh kesah tanpa khawatir akan ada yang membocorkan rahasia.

Sebab kamu ingin mendapat nilai utama ketika mengumpulkan tepat waktu. Lain ketika kamu menunda-nunda, bisa jadi bukan A+ yang kamu dapat.

Sholatlah kamu diawal waktu,
Sebab hatimu akan lebih bahagia memenuhi pinta-Nya


Memutari Lapangan

Hari Minggu yang lalu tak sengaja saya menonton acara Kiai Kanjeng milik Cak Nun. Jujur saya bukan penggemar beliau. Tiap lagi hampa dan butuh pencerahan, saya lebih sering buka Youtube dan ketik nama Nourman Ali Khan, bahasannya fokus menggali tafsir ayat-ayat Al-Quran yang bikin saya takjub pada ayat-ayat karunia Allah. Tapi bukan berati saya harus menutup mata dan telinga untuk mendengar penjelasan Ulama lain (asalkan menyampaikan kebenaran dan dengan adab yang benar). Begitu prinsip saya. Saya melihat bahwa setiap ulama, ustadz, atau apapun sebutannya punya fokus yang jadi perhatian maupun keunggulan masing-masing, sehingga untuk membuat pemahaman saya jadi lebih komprehensif saya tidak boleh pilih-pilih semau saya.

Hari itu Cak Nun menyinggung tema tentang pilkada yang sedang hits dan fenomena tafakur atau saling kafir-mengkafirkan. Beberapa kalimat Cak Nun bikin saya tertegun,

“Pernah nggak kita liat orang lagi lari-lari muterin lapangan? Kira-kira juaranya siapa?”
“Antar sesama manusia dalam beragama seperti itu. Anda nggak tau temen anda udah dapet berapa puteran. Anda bisa lihat dia lagi ngos-ngisan terus berhenti sebentar, tapi anda nggak tau dia udah dapet berapa puteran. Dunia ini pertandingan itu. Finalnya nanti baru di akhirat.”

Saya sadar sekali fenomena me-ranking kehebatan manusia itu begitu menempel dalam budaya masyarakat kita. Acap kali ketika sedang membicarakan prestasi seseorang, kita menimpali dengan ucapan “Ah, kalo menurut gue sih kerenan si ini… Ah kalo menurut gue sih dia lebih ini….” Kebiasaan itu bukan hanya hadir ketika membicarakan prestasi dunia tapi juga urusan akhirat. “Si ini lebih sholeh, si itu lebih sholehah… ” ya begitulah.

Bukan saya bermaksud untuk menyepelekan arti kata sholeh dan sholehah. Akan tetapi ada pernyataan Tuhan yang begitu mengusik hati saya akhir-akhir ini. “Dan kami tidak segan membuat perumpamaan manusia seperti nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.” (Al Baqarah: 26-27).

Kira-kira untuk apa ayat ini?


Menghalau yang terburu

Orang buru-buru ingin menikah
Buru-buru ingin dilamar
Buru-buru ingin berpacaran, kalau keduanya jauh diwujudkan
Tapi lupa menyiapkan mentalnya
Lupa memahami risiko dan konsekuensinya
Dikira menikah yang paling berat adalah modal finansialnya
Yang bisa diawali dari cantiknya paras dan rupa
Menikah butuh tahu kekurangan yang sudah jadi tabiat dan karakternya
Dan kesiapan untuk menerimanya
Menaikkan standarmu untuk pasanganmu
Menurunkan ekspektasimu untuk mencintai pasanganmu
Mengesampingkan egomu
Tidak malu untuk minta maaf
Bersedia memaafkan walau tidak diminta, dengan sepenuh hati tentunya
Memperjelas apa motif tindakanmu
Tau apa maumu
Tidak mudah berubah-ubah emosi dan keinginan
Tergerak hatimu dalam membaca apa yang pasanganmu inginkan
Memberi apa yang menjadi harapannya, bukan memberikan apa yang jadi ekspektasimu
Memberi bukan memancing
Sehingga keduanya bisa menyamakan ritme
Berada dalam barisan yang sama dan berjalan beriringan
Bukan hanya dalam obrolan minum kopi saja
Tapi dalam realita di lapangan
Atau berada dalam satu kapal yang sama
Mengayuh kapal, melawan ombak, dan melaluinya
Hingga bisa merasakan pemandangan berbagai pulau yang indah


Apakah Ikhlas Itu Ada?

Saya membaca tulisan salah satu teman kuliah saya di blognya yang ketika itu sedang mempertanyakan tentang kehidupan: apakah ikhlas itu benar-benar ada?

Beberapa argumen yang dijelaskannya antara lain adalah mengenai risk and return. Sangat manusiawi bila orang akan berpikir tentang keuntungan atau kebaikan yang didapatkannya setelah melakukan kebaikan. Bagaimana bila dia dihadapkan pada situasi untuk dimintai pertolongan sementara pernah dikecawakan oleh orang yang meminta bantuan dirinya? Menolak atau membuat berbagai alasan. Mungkin itu.

Perbuatan itu logis saja terlebih bagi orang-orang yang mempelajari aspek Ilmu Ekonomi yang mengenal adagium : there is no such a thing as a free lunch. Teman saya juga pernah berkata agar saya tidak dengan mudah memberi kebaikan pada orang yang tidak membalas kebaikan kita agar tidak dibodohi, “Please Astri, deserve your kindness for someone better.”

Rangkaian kalimat-kalimat itu membuat saya menyadari bahwa manusia memiliki ekspektasi sehingga tak banyak orang yang mampu untuk berbuat kebaikan tanpa mengharapkan kebaikan serupa datang pada dirinya. Disisi lain, manusia juga memiliki keinginan untuk self-esteem, yaitu kebutuhan untuk merasakan kebermanfaatan yang ditimbulkan oleh dirinya seperti dengan menjadi inspirasi bagi orang lain, misalnya dengan meng-upload foto kegiatan volunteering yang ia lakukan (Ini buka riya atau show off ya, tapi self-esteem. Mohon bedakan. Hehe).

Tapi kemudian saya ingat tentang sifat-sifat Allah yang orang tua saya ajarkan. Allah yang Maha Memberi dan Maha Pengampun, bisa saja Allah akan membatasi kemampuan bernafas hamba-Nya ketika ia kecewa karena hamba tersebut tidak menyembah-Nya, tapi Allah tidak lakukan itu. Bahkan, dalam beberapa kasus sering kita jumpai ada fenomena istidraj, yaitu kenikmatan yang justru diberikan kepada hamba-Nya yang lalai dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, saya menyadari betapa kecilnya saya dan betapa terbatasnya saya dibanding Tuhan.

Saya ingat dalam salah satu kajian Ustadz Syatori pernah berkata, orang yang berbuat baik atas kebaikan yang datang pada dirinya itu biasa, tapi kalau orang yang bisa berbuat baik atas kejahatan yang menimpa dirinya itu baru luar biasa. Disinilah saya mencoba untuk mengaitkan benang merahnya, bahwa ikhlas itu hanya milik Tuhan, yang entah bagaimana perlakuan kita kepada-Nya, ia akan memberi sesuai apa yang kita usahakan untuk diri kita sendiri (See: pernah ketemu kan sama orang yang sukes walau ngga beribadah tapi tekun kerjanya?)

Maka jika kita ingin ikhlas yang bisa kita lakukan adalah bersandar pada-Nya. Mengharap ridho-Nya. Menggantungkan harapan cukup pada Dia saja, bukan kepada makhluk-Nya.

Tapi jika kamu nggak bisa ikhlas, ya hitung saja kamu sedang melakukan transaksi bisnis. Bukan hal yang salah kok.

If you are helping someone and expecting something in return, you are doing business, not kindness.

Adagium itu bukan berarti kamu jahat, tapi memang kita perlu membedakan mana kebaikan yang patut untuk diikhlaskan dan mana yang perlu dimintai balasan. Ini juga menyangkut soal etika dan sopan santun. Kalo kamu dimintai tolong tapi orang yang meminta tolong bersikap tidak sopan apa kamu mau? Tentu kamu akan berpikir ulang. Sebaliknya, kalo kamu mau minta tolong tapi pernah bertindak seenaknya, apa kamu pede buat nembungnya?

It’s okay.

Jadi kamu sedang melakukan yang mana sekarang?


Belajar Sabar di Awal 2017

Hallo,

Ternyata menulis itu bikin rindu, tapi ia bukan candu. Ia menumbuhkan harapan baru, peringatan bagi diri sendiri, penyemangat yang bisa dibaca lagi.

Alhamdulillah hari ini lututku sudah bisa kufungsikan seperti sedia kala. Sekarang aku sudah lepas dari duduk di kursi baik untuk sholat ataupun mandi.

Selama lima belas hari kemarin, lututku nyaris kaku untuk bergerak dan tak bisa kena air karena luka kecelakaan. Sempat merasa kaki ini hanya luka ringan di hari ketiga kecelakaan, membuat aku mengindahkannya. Aku masih membuat power point untuk presentasi, berangkat presentasi laporan akhir, naik turun tangga dan sebagainya. Hingga kemudian, kaki ini ternyata infeksi. Lututku mengeluarkan cairan yang tak ada habisnya, badan terasa lemah karena kurang cairan, dan belum lagi sufratul (sisa perban alkohol) yang menempel tidak bisa dilepas untuk diganti. Alhasil kakipun terasa kaku sekali untuk bergerak. Ditambah pak bos pun yang mengira aku udah sudah sembuh tidak tahu kondisiku setelahnya menyuruh untuk menyelesaikan laporan akhir. “Ah sok-sokannya kemarin merasa sehat. Hingga bingung harus menjelaskan bagaimana bahwa saya drop habis-habisan setelahnya” Belum lagi ada masalah lain yang cukup menguras emosi.

 

Tapi ternyata, disitulah Tuhan punya cara untuk menumbukan ikatan emosional kepada makhluknya.

Aku yang beberapa kali menangis meratapi luka itu,  membuatku mama khawatir.  Keluarga mengajak ke dokter lagi tapi aku menolak. Akhirnya mama dengan sangat telaten membantu mengobatinya. Ia duduk lebih rendah dariku dan berubah menjadi seorang perawat.  Melihat cintanya yang begitu tulus, menumbuhkan keberanian bahwa aku harus bisa merawat lukaku sendiri. Besoknya, dengan perasaan yang campur aduk: kesakitan karena luka sufratul, merasa diabaikan seseorang, serta tumbuhnya keyakinan bahwa sabar adalah satu-satunya pilihan yang akan membuahkan hasil tanganku telaten membersihkan sisa-sisa sufratul yang membuat kakiku jadi seperti terikat dalam tempurung.

Innallaha ma’a shobbiriin….. sesungguhnya Alla itu bersama orang-orang yang sabar.

 

Dan hari ini rasanya begitu nikmat. Aku bisa merasakan betapa mengamati perkembangan luka yang membaik itu sangat menyenangkan, bagaikan punya bayi. 🙂

 


Who is A truly kind people?

I got an accident yesterday.

There was a message before I drove that caused me thinking during driving. I know I’m actually a truly slob person and not a good driver too. I tried to pass a car in front of me but suddenly there was a car behind wanted to pass me too. The street that came into narrow led me swerve to the left but there was sand which then made me fell. I was like surfing on…… asphalt.

It’s still hurt until now.

But, I am grateful because Allah still save my live.

He still shield me from another bigger wound.

And there were kindhearted people who helped me yesterday. Two women. One saved my motorcycle and the other one accompanied me go to Gadjah Mada Medical Center. I didn’t interact much with the first one, because she had another business after securing my bike. The second – a woman with big veil – waited me during the medication, bought mineral water, paid my drugs, and looked after my bags. When I asked about her schedule, she mentioned that she postponed it.

You know, I never had an experience to help people in traffic accident because I never met during driving, but God really loves me through sending strangers to help me and make me learn a lesson.

We know that generally people do a good deeds because of incentive behind or they take care of somebody because of love reason. But helping strangers is a special.

In traffic accident, people are mostly thinking twice to help because they have business or they are just watching other people to help. But those people who help – not just watching nor hoping the incentive to help a stranger – is one of a truly kindhearted people in my mind. TULUS. We call it in bahasa.

And I hope I can be surrounded by more people like that – people who focus on the good deeds and keep away any kinds of negativity both thought and action – for making me be a better person, be grateful, and feel the God’s grace.

Don’t let negativity ruin us. Also, don’t mix up negativity and positivity because it will harsh even worse. We may assume that we do a good deeds but actually never. We are just being fooled by ourselves.

Islam-Iman-Ihsan. Those are the goals of human in the world rite?

15873215_10207997632086181_3947008666669258442_n

 

 

 

 

 


Aku suka, tapi lebih suka

Aku suka caramu memperlakukanku
Tapi aku lebih suka caramu memperlakukan dirimu sendiri
Aku lebih suka caramu memperlakukan entitas yang ada di atasmu (Tuhan)
Aku lebih suka caramu memperlakukan perantara yang membawamu ke dunia (Ayah dan ibumu)
Aku lebih suka caramu memperlakukan adik-kakakmu, keluarga, dan orang-orang terdekatmu

Aku bukan suka caramu memandangku
Aku suka caramu memandang dunia

Aku suka caramu berbicara padaku
Tapi aku lebih suka caramu berbicara pada penciptamu (sholat)
Aku suka caramu menyimak ucapanku
Tapi aku lebih suka caramu menyimak petunjuk Tuhanmu (mambaca Al-quran)
Aku suka caramu membuka hatimu untukku
Tapi aku lebih suka caramu membuka hatimu untuk Rabb-mu (belajar agama)

Aku suka caramu merindukanku
Tapi aku lebih suka caramu merindukan Rabb-mu
Aku suka caramu mencariku
Tapi aku lebih suka caramu mencari keberadaan Rabb-mu

Aku bahagia kau mendekatiku, tapi lebih bahagia kau mendekati Tuhanmu dulu

Aku bahagia atas caramu menemuiku
Tapi aku lebih bahagia caramu menemui Tuhanmu


Membela Agama

Tuh kan beneran. Beneran ada temen yang jadi phobia sama agamanya sendiri karena merasa agamanya jadi bikin dia benci sama agama lain. Padahal…
Padahal yang dia liat itu cuma sebagian golongan aja
Dia belum liat sebagian golongan lain atau ajaran lain yang diajarkan
Ibarat baca cerita, dia baru baca setengah, atau halaman depan, tapi udah nyimpulin cerita akhirnya
Kesel,
Dulu kesel sama oknum-oknum yang suka muncul di permukaan
Yang mengatasnamakan islam
Yang merasa membela tapi tidak melihat dampak buruk ukhuwah islamiyah di dalamnya
Kejadian kayak begini bahkan bikin temen aku jadi agnostik
Atau bikin orang-orang sholeh dan sholehah terpinggirkan
Kenapa? Karena mereka yang menggunakan jilbab besar misalnya atau bercelana congklang jadi dianggap sama seperti mereka yang membela itu
Tidak bisakah kita mencegah kemungkaran dengan cara yang rahmatan lil alamin?
Dengan cara yang damai dan tak main hakim sendiri?
Kesal,
Karena saya pun tahu benar bagaimana perjuangan muslim minoritas dengan atribut keislamannya di luar negeri dikucilkan karena mereka dianggap radikal
Saya tak mau sebut kalian yang membela radikal
Karena saya tahu kalian tak punya maksud demikian
Tapi tindakan main hakim sendiri dan memaksakan
Serta menunjukkan betapa banyaknya kita dibanding mereka yang sedikit
Meski bila kita benar justru membuat kita seperti tak mengormati hukum dan menekan yang lemah
Kita perlu pakai cara yang lebih cerdas kawan
Atau gunakan cara yang lebih elegan
Lobying
Atau bahkan
Maafkan saja dia
Dan biarkan Tuhan yang menunjukkan kuasanya


Looking for Deen

Who am I?
Who are you?
And who’s the deen?
Have we known Him?
Can we find Him?

If you can’t find me within you, it means that you don’t know me
If I can’t find you within me, it means that I don’t know you

If I can’t find deen within me, it means that I don’t know Him
If you can’t find deen within you, it means that you don’t know Him
If we can’t find deen within us, it means that we don’t know Him

I hope that you’ve found deen, before you finally found me
I hope that I’ve found deen, before I finally found you
And finally we are being one under the deen light


Farrah & Adien’s Marriage Story

Hari Senin seminggu yang lalu, sekitar jam 10 malam ada line dari Farrah, minta bantuan.

IMG_20161009_093531[1]
Astriiiii, nanti pas resepsi jam 8 ada friend’s speech gitu di weddingku. Aku pengen kamu salah satunya beb. Bisa? Yang mengharukan gitu nanti diiringi sama instrumental dari band. Lebih ke tentang aku gimana orangnya, pesan untuk Adien tentang aku, sama ucapan buat kita berdua.”

Omg seriously I am. Wkwk”, responku.

Seketika aku flashback ke masa KKN, kami anak-anak FEB sempet sharing love life dan Farrah mengeluarkan pendapatnya tentang jodoh. Isi kalimatnya kurang lebih begini,
Aku percaya jodoh itu udah digarisin sama Tuhan. Aku nentuin pengen dapet jodoh yang kriterianya a, b,c. Tapi aku juga berusaha buat bisa ngimbangin karakter a, b, c itu. Kalau aku mau dapet jodoh yang sesuai sama kriteriaku, ya aku harus menjadi yang seperti itu dulu, soalnya hal baik apa yang aku lakuin sekarang, itu juga yang dilakuin sama jodohku di masa depan.” Kata-kata itupun membekas di otakku.

Aku yakin Farrah bukan orang yang sembarangan, yang ndeketin banyak tapi dia selektif. Farrah kelihatannya nyiapin kriterianya secara mateng. Sesuatu yang belum aku pikirin saat itu. Setelah kutelusuri emang beneran kata-katanya Farrah itu diyakini di ajaran islam. Lauhul Mahfudz.

Adien denger-denger katanya juga gitu. Farrah sempet cerita, “Aku mau nerima Adien soalnya dari awal deketin dia bilang, selama empat tahun dia nggak pacaran, nyiapin dirinya, ikut organisasi ini itu, bahkan jadi ketua. Dia pengen ada sesuatu yang dibanggain ketika nanti ketemu jodohnya.
Wah… bisa sama ya pandangan hidupnya sebelum mereka ketemu. Mungkin itu yang dijanjikan sama Allah tentang konsep sekufu, yang diartikan sama dalam pandangan agamanya. Agama yang berarti pedoman dalam memandang dan menjalani hidup, bukan sekedar sama-sama memeluk Islam.

Makasih Far pencerahannya. Maybe you act like your name, Hudayani: petunjuk. Farrah sering jadi inisiator, sehingga bikin temen-temen di lingkungannya bersatu buat melakukan sesuatu. Kadang dia juga sering jadi penengah, orang yang ngasih solusi ketika ada banyak pendapat dan tetep tampil apa adanya “Haha aku solutif nggak?” Farrah kayak anak kecil yang polos dan natural.

Farrah dan Adien tanggal 8 Oktober 2016 resmi bersatu. Kalian berdua kalau yang aku lihat berusaha menjalani sesuatu yang diajarkan islam dan menyesuaikannya sama dunia yang modern ini. Termasuk keinginan kalian untuk nggak main-main, membikin plan bukan sekedar janji atau jargon untuk berusaha meyakinkan orang tua kalian menyegerakan menikah setelah 1 tahun saling mengenal lebih dekat. Bahkan Farrah cerita, dia dan Adien bikin excel dan power point buat jadi semacam proposal ke orang tuanya bahwa mereka mampu secara finansial dan berkomitmen untuk hidup sederhana setelah menikah. Seserius itu, bener-bener anak manajemen yang terorganisir, kamu Far! Hahaha.

 

Kalian sadar pacaran berisiko dosa, disaat sebagian orang yang lain beranggapan bahwa itu adalah biasa. Karena sebenarnya di Islam, ada batasan cewe – cowo yang lebih banyak, tapi keinginan untuk mengimani ajaran-Nya yang jadi pembeda. Tapi kalau udah nikah, pegangan tangan aja jadi ladang pahala 😀

Kalian berdua tampak mempersiapan modal dan menyeriusi diri kalian dulu supaya waktu ketemu jodoh kalian nggak saling kecewa dan nggak mengecewakan pasangan. Konsep ikhtiar sekaligus juga qodho dan qodar, mungkin itu yang perlu banyak dipahami ketika bicara soal love life.

Di usia yang masih muda, Farrah 22 dan Adien tepat 23 di hari pernikahannya, umumnya, akan lebih banyak emosi yang akan tercurah, di usia-usia segitu. Tapi waktu makan bareng habis nemenin Farrah beli kain buat akad nikah, Farrah tampaknya udah cukup matang untuk mengimbangi Adien, menurunkan emosi, dan terasa lebih rendah hati dalam mengambil sikap.

Far, Adien, selamet menempuh hidup baru. Kalian emang berani. Tapi secara pribadi, aku berpandangan ini berani yang positif. Far, Adien, aku pernah baca artikel, isinya kurang lebih gini :
Jatuh cinta itu mudah. 10 menit juga bisa. Tertarik sama lawan jenis yang cantik atau cakep. Tapi beda sama bangun cinta. Itu butuh seumur hidup. Keinginan untuk saling memahami satu sama lain. menyisihan ego.

Makasih ya udah jadi panutan. Semoga pernikahan kalian samawa dan barokah. Kalian pastinya saling bersyukur udah sah jadi pasangan hidup. Aku yakin kalian bisa jadi pasangan yang saling mengisi satu sama lain. Selamat bangun cinta yaaa….

IMG-20161008-WA0043