Menuntut Ilmu dan Miskonsepsi dalam Islam

Saya lahir di lingkungan keluarga yang cukup religius dalam menjalankan ritual ibadah keagamaan. Meski begitu, saya merasa hidup dalam kondisi budaya yang membingungkan tentang ajaran islam seperti stereototype buruk pemakaian cadar, celana congklang, dan jenggot yang lekat dengan aliran keras bahkan berpotensi teoris. Saya sadar bahwa itu semua terbentuk karena sejarah yang cukup panjang seperti peristiwa teroris yang mana mereka menggunakan atribut demikian. Saya mengamati bahwa stereotype yang buruk itu bukan hanya saya saja yang mengalami, tapi juga generasi muda dan tua pada umumnya di Indonesia. Lebih dari itu, sering kali masyarakat kita sudah merinding duluan dengar kata-kata syariah, jihad, dan lain sebagainya yang seakan-akan lekat dengan aksi teror atau kekerasan. Atau mungkin, kita terbawa pada suasana malu dan geli mendengar orang-orang yang memilih taaruf dibanding pacaran untuk mengenal calon pasangannya menuju jenjang pernikahan. Ya, begitulah seakan-akan islam ajaran islam itu aneh, tapi ada berapa kali pula Allah SWT menjelaskan bahwa ajaran Al-Quran itu hanya bagi orang-orang yang mau berpikir dan bahwa akan ada tembok yang memisahkan hati antara orang-orang yang membaca Al-Quran dan yang tidak.


BERHIJRAH TANPA BATAS WAKTU DAN KATA AKHIR

Saya lahir di lingkungan keluarga yang cukup religius dalam menjalankan ritual ibadah keagamaan. Meski begitu, saya merasa hidup dalam kondisi budaya yang membingungkan tentang ajaran islam seperti stereototype buruk pemakaian cadar, celana congklang, dan jenggot yang lekat dengan aliran keras bahkan berpotensi teroris. Saya sadar bahwa semua itu terbentuk karena sejarah panjang peristiwa teroris yang menggunakan atribut demikian. Saya mengamati bahwa stereotype buruk itu bukan hanya saya yang mengalami, tapi juga generasi muda dan tua pada umumnya di Indonesia. Lebih dari itu, sering kali masyarakat kita sudah merinding duluan dengar kata-kata syariah, jihad, dan lain sebagainya yang seakan-akan lekat dengan aksi teror atau kekerasan. Atau mungkin, kita terbawa pada suasana malu dan geli mendengar orang-orang yang memilih taaruf dibanding pacaran untuk mengenal calon pasangannya menuju jenjang pernikahan. Ya, begitulah seakan-akan ajaran islam itu aneh, tapi bukankah Allah SWT telah menjelaskan beberapa kali bahwa ajaran Al-Quran itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berpikir dan bahwa akan ada tembok yang memisahkan hati antara orang-orang yang membaca Al-Quran dan yang tidak.

Sebelum akhirnya saya membuka hati saya untuk memangkas tembok miskonsepsi tersebut, suatu hari saya diajak oleh sepupu saya untuk menemaninya hadir di acara pernikahan temannya. Ketika itu saya iseng melontarkan jawaban ketika pamit pada Ayah saya, “Pa, aku mau nemenin Tia ke nikahan temennya, siapa tau ketemu jodoh disana.” Ternyata, saya ketemu jodoh sungguhan, tapi bukan jodoh berupa laki-laki yang saya nikahi, melainkan permulaan saya bertemu ilmu agama yang meruntuhkan miskonsepi tersebut.

Selang beberapa hari saya mendapat cerita bahwa teman sepupu saya yang menikah tersebut tidak berpacaran melainkan taaruf dan melamar suaminya. Merasa amazing karena taaruf dan lamaran yang dilakukan pihak perempuan itu masih sangat jarang di Indonesia, tanpa sengaja satu bulan setelahnya saya bertemu dengan wanita itu. Saya menyapanya dengan penuh semangat lalu kami ngobrol soal taaruf hingga sharing informasi kajian. Saya mendatangi kajian yang dia berikan di Masjid Mujahidin. Usai pulang dari sana, saya merasa begitu banyak dosa dan jadi ingin belajar lebih dalam lagi tentang Islam.

Sejak saat itu, ada dorongan kuat yang membuat saya ingin menggali ilmu yang sepertinya hanya saya peroleh asal-asalan. Kalau dibilang sekarang saya sudah berhijrah, apakah saya pantas untuk menilai hijrah diri saya? Sepertinya hanya Allah yang tahu kadar keikhlasan saya. Allah juga yang tau saya kedepannya akan jadi orang yang mampu memegang ilmu yang sekarang saya pegang atau malah mengendorkannya. Saya berharap saya tetap bisa memegang prinsip islam meski mampu menempatkan diri dalam zaman yang terus berubah. Hijrah bagi saya pribadi adalah sebuah proses untuk menuntut ilmu agama dan mengamalkannya yang dilakukan secara kontinuitas tanpa lelah, merasa cukup dan membangga-banggakan diri.


SIA-SIA

Melakukan dengan baik sesuatu yang tak dihitung, melakukan dengan setengah hati sesuatu yang dihitung. Sia-sia?

Manusia larut dalam pekerjaannya. Dalam suatu konferensi atau rapat, banyak dari mereka yang mengakhirkan waktu sholat setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Tak sadarkah kita bahwa sholat adalah amal ibadah yang pertama kali dihisab Allah?

Maka, sholatlah kamu, karena amalan itu yang akan dihisab paling utama.

Sholatlah kamu, karena sholat merupakan tali agama Allah yang membebaskanmu dari perbuatan kufur.

Sholatlah karena itu adalah media untukmu berbicara pada Rabb-mu

Sholatlah kamu karena ia menjadikan hatimu lapang.

Sebab, kamu tak akan rela membiarkan telponmu berdering terlalu lama ketika mendapat telpon dari yang kau Cinta. Sebab kamu tak ingin membuat-Nya menunggu. Sebab kamu ingin segera berbicara dan bercerita pada-Nya. Sebab disana kamu bisa berkeluh kesah tanpa khawatir akan ada yang membocorkan rahasia.

Sebab kamu ingin mendapat nilai utama ketika mengumpulkan tepat waktu. Lain ketika kamu menunda-nunda, bisa jadi bukan A+ yang kamu dapat.

Sholatlah kamu diawal waktu,
Sebab hatimu akan lebih bahagia memenuhi pinta-Nya


Memutari Lapangan

Hari Minggu yang lalu tak sengaja saya menonton acara Kiai Kanjeng milik Cak Nun. Jujur saya bukan penggemar beliau. Tiap lagi hampa dan butuh pencerahan, saya lebih sering buka Youtube dan ketik nama Nourman Ali Khan, bahasannya fokus menggali tafsir ayat-ayat Al-Quran yang bikin saya takjub pada ayat-ayat karunia Allah. Tapi bukan berati saya harus menutup mata dan telinga untuk mendengar penjelasan Ulama lain (asalkan menyampaikan kebenaran dan dengan adab yang benar). Begitu prinsip saya. Saya melihat bahwa setiap ulama, ustadz, atau apapun sebutannya punya fokus yang jadi perhatian maupun keunggulan masing-masing, sehingga untuk membuat pemahaman saya jadi lebih komprehensif saya tidak boleh pilih-pilih semau saya.

Hari itu Cak Nun menyinggung tema tentang pilkada yang sedang hits dan fenomena tafakur atau saling kafir-mengkafirkan. Beberapa kalimat Cak Nun bikin saya tertegun,

“Pernah nggak kita liat orang lagi lari-lari muterin lapangan? Kira-kira juaranya siapa?”
“Antar sesama manusia dalam beragama seperti itu. Anda nggak tau temen anda udah dapet berapa puteran. Anda bisa lihat dia lagi ngos-ngisan terus berhenti sebentar, tapi anda nggak tau dia udah dapet berapa puteran. Dunia ini pertandingan itu. Finalnya nanti baru di akhirat.”

Saya sadar sekali fenomena me-ranking kehebatan manusia itu begitu menempel dalam budaya masyarakat kita. Acap kali ketika sedang membicarakan prestasi seseorang, kita menimpali dengan ucapan “Ah, kalo menurut gue sih kerenan si ini… Ah kalo menurut gue sih dia lebih ini….” Kebiasaan itu bukan hanya hadir ketika membicarakan prestasi dunia tapi juga urusan akhirat. “Si ini lebih sholeh, si itu lebih sholehah… ” ya begitulah.

Bukan saya bermaksud untuk menyepelekan arti kata sholeh dan sholehah. Akan tetapi ada pernyataan Tuhan yang begitu mengusik hati saya akhir-akhir ini. “Dan kami tidak segan membuat perumpamaan manusia seperti nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.” (Al Baqarah: 26-27).

Kira-kira untuk apa ayat ini?


Menghalau yang terburu

Orang buru-buru ingin menikah
Buru-buru ingin dilamar
Buru-buru ingin berpacaran, kalau keduanya jauh diwujudkan
Tapi lupa menyiapkan mentalnya
Lupa memahami risiko dan konsekuensinya
Dikira menikah yang paling berat adalah modal finansialnya
Yang bisa diawali dari cantiknya paras dan rupa
Menikah butuh tahu kekurangan yang sudah jadi tabiat dan karakternya
Dan kesiapan untuk menerimanya
Menaikkan standarmu untuk pasanganmu
Menurunkan ekspektasimu untuk mencintai pasanganmu
Mengesampingkan egomu
Tidak malu untuk minta maaf
Bersedia memaafkan walau tidak diminta, dengan sepenuh hati tentunya
Memperjelas apa motif tindakanmu
Tau apa maumu
Tidak mudah berubah-ubah emosi dan keinginan
Tergerak hatimu dalam membaca apa yang pasanganmu inginkan
Memberi apa yang menjadi harapannya, bukan memberikan apa yang jadi ekspektasimu
Memberi bukan memancing
Sehingga keduanya bisa menyamakan ritme
Berada dalam barisan yang sama dan berjalan beriringan
Bukan hanya dalam obrolan minum kopi saja
Tapi dalam realita di lapangan
Atau berada dalam satu kapal yang sama
Mengayuh kapal, melawan ombak, dan melaluinya
Hingga bisa merasakan pemandangan berbagai pulau yang indah


Apakah Ikhlas Itu Ada?

Saya membaca tulisan salah satu teman kuliah saya di blognya yang ketika itu sedang mempertanyakan tentang kehidupan: apakah ikhlas itu benar-benar ada?

Beberapa argumen yang dijelaskannya antara lain adalah mengenai risk and return. Sangat manusiawi bila orang akan berpikir tentang keuntungan atau kebaikan yang didapatkannya setelah melakukan kebaikan. Bagaimana bila dia dihadapkan pada situasi untuk dimintai pertolongan sementara pernah dikecawakan oleh orang yang meminta bantuan dirinya? Menolak atau membuat berbagai alasan. Mungkin itu.

Perbuatan itu logis saja terlebih bagi orang-orang yang mempelajari aspek Ilmu Ekonomi yang mengenal adagium : there is no such a thing as a free lunch. Teman saya juga pernah berkata agar saya tidak dengan mudah memberi kebaikan pada orang yang tidak membalas kebaikan kita agar tidak dibodohi, “Please Astri, deserve your kindness for someone better.”

Rangkaian kalimat-kalimat itu membuat saya menyadari bahwa manusia memiliki ekspektasi sehingga tak banyak orang yang mampu untuk berbuat kebaikan tanpa mengharapkan kebaikan serupa datang pada dirinya. Disisi lain, manusia juga memiliki keinginan untuk self-esteem, yaitu kebutuhan untuk merasakan kebermanfaatan yang ditimbulkan oleh dirinya seperti dengan menjadi inspirasi bagi orang lain, misalnya dengan meng-upload foto kegiatan volunteering yang ia lakukan (Ini buka riya atau show off ya, tapi self-esteem. Mohon bedakan. Hehe).

Tapi kemudian saya ingat tentang sifat-sifat Allah yang orang tua saya ajarkan. Allah yang Maha Memberi dan Maha Pengampun, bisa saja Allah akan membatasi kemampuan bernafas hamba-Nya ketika ia kecewa karena hamba tersebut tidak menyembah-Nya, tapi Allah tidak lakukan itu. Bahkan, dalam beberapa kasus sering kita jumpai ada fenomena istidraj, yaitu kenikmatan yang justru diberikan kepada hamba-Nya yang lalai dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, saya menyadari betapa kecilnya saya dan betapa terbatasnya saya dibanding Tuhan.

Saya ingat dalam salah satu kajian Ustadz Syatori pernah berkata, orang yang berbuat baik atas kebaikan yang datang pada dirinya itu biasa, tapi kalau orang yang bisa berbuat baik atas kejahatan yang menimpa dirinya itu baru luar biasa. Disinilah saya mencoba untuk mengaitkan benang merahnya, bahwa ikhlas itu hanya milik Tuhan, yang entah bagaimana perlakuan kita kepada-Nya, ia akan memberi sesuai apa yang kita usahakan untuk diri kita sendiri (See: pernah ketemu kan sama orang yang sukes walau ngga beribadah tapi tekun kerjanya?)

Maka jika kita ingin ikhlas yang bisa kita lakukan adalah bersandar pada-Nya. Mengharap ridho-Nya. Menggantungkan harapan cukup pada Dia saja, bukan kepada makhluk-Nya.

Tapi jika kamu nggak bisa ikhlas, ya hitung saja kamu sedang melakukan transaksi bisnis. Bukan hal yang salah kok.

If you are helping someone and expecting something in return, you are doing business, not kindness.

Adagium itu bukan berarti kamu jahat, tapi memang kita perlu membedakan mana kebaikan yang patut untuk diikhlaskan dan mana yang perlu dimintai balasan. Ini juga menyangkut soal etika dan sopan santun. Kalo kamu dimintai tolong tapi orang yang meminta tolong bersikap tidak sopan apa kamu mau? Tentu kamu akan berpikir ulang. Sebaliknya, kalo kamu mau minta tolong tapi pernah bertindak seenaknya, apa kamu pede buat nembungnya?

It’s okay.

Jadi kamu sedang melakukan yang mana sekarang?


Belajar Sabar di Awal 2017

Hallo,

Ternyata menulis itu bikin rindu, tapi ia bukan candu. Ia menumbuhkan harapan baru, peringatan bagi diri sendiri, penyemangat yang bisa dibaca lagi.

Alhamdulillah hari ini lututku sudah bisa kufungsikan seperti sedia kala. Sekarang aku sudah lepas dari duduk di kursi baik untuk sholat ataupun mandi.

Selama lima belas hari kemarin, lututku nyaris kaku untuk bergerak dan tak bisa kena air karena luka kecelakaan. Sempat merasa kaki ini hanya luka ringan di hari ketiga kecelakaan, membuat aku mengindahkannya. Aku masih membuat power point untuk presentasi, berangkat presentasi laporan akhir, naik turun tangga dan sebagainya. Hingga kemudian, kaki ini ternyata infeksi. Lututku mengeluarkan cairan yang tak ada habisnya, badan terasa lemah karena kurang cairan, dan belum lagi sufratul (sisa perban alkohol) yang menempel tidak bisa dilepas untuk diganti. Alhasil kakipun terasa kaku sekali untuk bergerak. Ditambah pak bos pun yang mengira aku udah sudah sembuh tidak tahu kondisiku setelahnya menyuruh untuk menyelesaikan laporan akhir. “Ah sok-sokannya kemarin merasa sehat. Hingga bingung harus menjelaskan bagaimana bahwa saya drop habis-habisan setelahnya” Belum lagi ada masalah lain yang cukup menguras emosi.

 

Tapi ternyata, disitulah Tuhan punya cara untuk menumbukan ikatan emosional kepada makhluknya.

Aku yang beberapa kali menangis meratapi luka itu,  membuatku mama khawatir.  Keluarga mengajak ke dokter lagi tapi aku menolak. Akhirnya mama dengan sangat telaten membantu mengobatinya. Ia duduk lebih rendah dariku dan berubah menjadi seorang perawat.  Melihat cintanya yang begitu tulus, menumbuhkan keberanian bahwa aku harus bisa merawat lukaku sendiri. Besoknya, dengan perasaan yang campur aduk: kesakitan karena luka sufratul, merasa diabaikan seseorang, serta tumbuhnya keyakinan bahwa sabar adalah satu-satunya pilihan yang akan membuahkan hasil tanganku telaten membersihkan sisa-sisa sufratul yang membuat kakiku jadi seperti terikat dalam tempurung.

Innallaha ma’a shobbiriin….. sesungguhnya Alla itu bersama orang-orang yang sabar.

 

Dan hari ini rasanya begitu nikmat. Aku bisa merasakan betapa mengamati perkembangan luka yang membaik itu sangat menyenangkan, bagaikan punya bayi. 🙂

 


Who is A truly kind people?

I got an accident yesterday.

There was a message before I drove that caused me thinking during driving. I know I’m actually a truly slob person and not a good driver too. I tried to pass a car in front of me but suddenly there was a car behind wanted to pass me too. The street that came into narrow led me swerve to the left but there was sand which then made me fell. I was like surfing on…… asphalt.

It’s still hurt until now.

But, I am grateful because Allah still save my live.

He still shield me from another bigger wound.

And there were kindhearted people who helped me yesterday. Two women. One saved my motorcycle and the other one accompanied me go to Gadjah Mada Medical Center. I didn’t interact much with the first one, because she had another business after securing my bike. The second – a woman with big veil – waited me during the medication, bought mineral water, paid my drugs, and looked after my bags. When I asked about her schedule, she mentioned that she postponed it.

You know, I never had an experience to help people in traffic accident because I never met during driving, but God really loves me through sending strangers to help me and make me learn a lesson.

We know that generally people do a good deeds because of incentive behind or they take care of somebody because of love reason. But helping strangers is a special.

In traffic accident, people are mostly thinking twice to help because they have business or they are just watching other people to help. But those people who help – not just watching nor hoping the incentive to help a stranger – is one of a truly kindhearted people in my mind. TULUS. We call it in bahasa.

And I hope I can be surrounded by more people like that – people who focus on the good deeds and keep away any kinds of negativity both thought and action – for making me be a better person, be grateful, and feel the God’s grace.

Don’t let negativity ruin us. Also, don’t mix up negativity and positivity because it will harsh even worse. We may assume that we do a good deeds but actually never. We are just being fooled by ourselves.

Islam-Iman-Ihsan. Those are the goals of human in the world rite?

15873215_10207997632086181_3947008666669258442_n

 

 

 

 

 


Aku suka, tapi lebih suka

Aku suka caramu memperlakukanku
Tapi aku lebih suka caramu memperlakukan dirimu sendiri
Aku lebih suka caramu memperlakukan entitas yang ada di atasmu (Tuhan)
Aku lebih suka caramu memperlakukan perantara yang membawamu ke dunia (Ayah dan ibumu)
Aku lebih suka caramu memperlakukan adik-kakakmu, keluarga, dan orang-orang terdekatmu

Aku bukan suka caramu memandangku
Aku suka caramu memandang dunia

Aku suka caramu berbicara padaku
Tapi aku lebih suka caramu berbicara pada penciptamu (sholat)
Aku suka caramu menyimak ucapanku
Tapi aku lebih suka caramu menyimak petunjuk Tuhanmu (mambaca Al-quran)
Aku suka caramu membuka hatimu untukku
Tapi aku lebih suka caramu membuka hatimu untuk Rabb-mu (belajar agama)

Aku suka caramu merindukanku
Tapi aku lebih suka caramu merindukan Rabb-mu
Aku suka caramu mencariku
Tapi aku lebih suka caramu mencari keberadaan Rabb-mu

Aku bahagia kau mendekatiku, tapi lebih bahagia kau mendekati Tuhanmu dulu

Aku bahagia atas caramu menemuiku
Tapi aku lebih bahagia caramu menemui Tuhanmu


Membela Agama

Tuh kan beneran. Beneran ada temen yang jadi phobia sama agamanya sendiri karena merasa agamanya jadi bikin dia benci sama agama lain. Padahal…
Padahal yang dia liat itu cuma sebagian golongan aja
Dia belum liat sebagian golongan lain atau ajaran lain yang diajarkan
Ibarat baca cerita, dia baru baca setengah, atau halaman depan, tapi udah nyimpulin cerita akhirnya
Kesel,
Dulu kesel sama oknum-oknum yang suka muncul di permukaan
Yang mengatasnamakan islam
Yang merasa membela tapi tidak melihat dampak buruk ukhuwah islamiyah di dalamnya
Kejadian kayak begini bahkan bikin temen aku jadi agnostik
Atau bikin orang-orang sholeh dan sholehah terpinggirkan
Kenapa? Karena mereka yang menggunakan jilbab besar misalnya atau bercelana congklang jadi dianggap sama seperti mereka yang membela itu
Tidak bisakah kita mencegah kemungkaran dengan cara yang rahmatan lil alamin?
Dengan cara yang damai dan tak main hakim sendiri?
Kesal,
Karena saya pun tahu benar bagaimana perjuangan muslim minoritas dengan atribut keislamannya di luar negeri dikucilkan karena mereka dianggap radikal
Saya tak mau sebut kalian yang membela radikal
Karena saya tahu kalian tak punya maksud demikian
Tapi tindakan main hakim sendiri dan memaksakan
Serta menunjukkan betapa banyaknya kita dibanding mereka yang sedikit
Meski bila kita benar justru membuat kita seperti tak mengormati hukum dan menekan yang lemah
Kita perlu pakai cara yang lebih cerdas kawan
Atau gunakan cara yang lebih elegan
Lobying
Atau bahkan
Maafkan saja dia
Dan biarkan Tuhan yang menunjukkan kuasanya