Who is A truly kind people?

I got an accident yesterday.

There was a message before I drove that caused me thinking during driving. I know I’m actually a truly slob person and not a good driver too. I tried to pass a car in front of me but suddenly there was a car behind wanted to pass me too. The street that came into narrow led me swerve to the left but there was sand which then made me fell. I was like surfing on…… asphalt.

It’s still hurt until now.

But, I am grateful because Allah still save my live.

He still shield me from another bigger wound.

And there were kindhearted people who helped me yesterday. Two women. One saved my motorcycle and the other one accompanied me go to Gadjah Mada Medical Center. I didn’t interact much with the first one, because she had another business after securing my bike. The second – a woman with big veil – waited me during the medication, bought mineral water, paid my drugs, and looked after my bags. When I asked about her schedule, she mentioned that she postponed it.

You know, I never had an experience to help people in traffic accident because I never met during driving, but God really loves me through sending strangers to help me and make me learn a lesson.

We know that generally people do a good deeds because of incentive behind or they take care of somebody because of love reason. But helping strangers is a special.

In traffic accident, people are mostly thinking twice to help because they have business or they are just watching other people to help. But those people who help – not just watching nor hoping the incentive to help a stranger – is one of a truly kindhearted people in my mind. TULUS. We call it in bahasa.

And I hope I can be surrounded by more people like that – people who focus on the good deeds and keep away any kinds of negativity both thought and action – for making me be a better person, be grateful, and feel the God’s grace.

Don’t let negativity ruin us. Also, don’t mix up negativity and positivity because it will harsh even worse. We may assume that we do a good deeds but actually never. We are just being fooled by ourselves.

Islam-Iman-Ihsan. Those are the goals of human in the world rite?

15873215_10207997632086181_3947008666669258442_n

 

 

 

 

 


Aku suka, tapi lebih suka

Aku suka caramu memperlakukanku
Tapi aku lebih suka caramu memperlakukan dirimu sendiri
Aku lebih suka caramu memperlakukan entitas yang ada di atasmu (Tuhan)
Aku lebih suka caramu memperlakukan perantara yang membawamu ke dunia (Ayah dan ibumu)
Aku lebih suka caramu memperlakukan adik-kakakmu, keluarga, dan orang-orang terdekatmu

Aku bukan suka caramu memandangku
Aku suka caramu memandang dunia

Aku suka caramu berbicara padaku
Tapi aku lebih suka caramu berbicara pada penciptamu (sholat)
Aku suka caramu menyimak ucapanku
Tapi aku lebih suka caramu menyimak petunjuk Tuhanmu (mambaca Al-quran)
Aku suka caramu membuka hatimu untukku
Tapi aku lebih suka caramu membuka hatimu untuk Rabb-mu (belajar agama)

Aku suka caramu merindukanku
Tapi aku lebih suka caramu merindukan Rabb-mu
Aku suka caramu mencariku
Tapi aku lebih suka caramu mencari keberadaan Rabb-mu

Aku bahagia kau mendekatiku, tapi lebih bahagia kau mendekati Tuhanmu dulu

Aku bahagia atas caramu menemuiku
Tapi aku lebih bahagia caramu menemui Tuhanmu


Membela Agama

Tuh kan beneran. Beneran ada temen yang jadi phobia sama agamanya sendiri karena merasa agamanya jadi bikin dia benci sama agama lain. Padahal…
Padahal yang dia liat itu cuma sebagian golongan aja
Dia belum liat sebagian golongan lain atau ajaran lain yang diajarkan
Ibarat baca cerita, dia baru baca setengah, atau halaman depan, tapi udah nyimpulin cerita akhirnya
Kesel,
Dulu kesel sama oknum-oknum yang suka muncul di permukaan
Yang mengatasnamakan islam
Yang merasa membela tapi tidak melihat dampak buruk ukhuwah islamiyah di dalamnya
Kejadian kayak begini bahkan bikin temen aku jadi agnostik
Atau bikin orang-orang sholeh dan sholehah terpinggirkan
Kenapa? Karena mereka yang menggunakan jilbab besar misalnya atau bercelana congklang jadi dianggap sama seperti mereka yang membela itu
Tidak bisakah kita mencegah kemungkaran dengan cara yang rahmatan lil alamin?
Dengan cara yang damai dan tak main hakim sendiri?
Kesal,
Karena saya pun tahu benar bagaimana perjuangan muslim minoritas dengan atribut keislamannya di luar negeri dikucilkan karena mereka dianggap radikal
Saya tak mau sebut kalian yang membela radikal
Karena saya tahu kalian tak punya maksud demikian
Tapi tindakan main hakim sendiri dan memaksakan
Serta menunjukkan betapa banyaknya kita dibanding mereka yang sedikit
Meski bila kita benar justru membuat kita seperti tak mengormati hukum dan menekan yang lemah
Kita perlu pakai cara yang lebih cerdas kawan
Atau gunakan cara yang lebih elegan
Lobying
Atau bahkan
Maafkan saja dia
Dan biarkan Tuhan yang menunjukkan kuasanya


Looking for Deen

Who am I?
Who are you?
And who’s the deen?
Have we known Him?
Can we find Him?

If you can’t find me within you, it means that you don’t know me
If I can’t find you within me, it means that I don’t know you

If I can’t find deen within me, it means that I don’t know Him
If you can’t find deen within you, it means that you don’t know Him
If we can’t find deen within us, it means that we don’t know Him

I hope that you’ve found deen, before you finally found me
I hope that I’ve found deen, before I finally found you
And finally we are being one under the deen light


Farrah & Adien’s Marriage Story

Hari Senin seminggu yang lalu, sekitar jam 10 malam ada line dari Farrah, minta bantuan.

IMG_20161009_093531[1]
Astriiiii, nanti pas resepsi jam 8 ada friend’s speech gitu di weddingku. Aku pengen kamu salah satunya beb. Bisa? Yang mengharukan gitu nanti diiringi sama instrumental dari band. Lebih ke tentang aku gimana orangnya, pesan untuk Adien tentang aku, sama ucapan buat kita berdua.”

Omg seriously I am. Wkwk”, responku.

Seketika aku flashback ke masa KKN, kami anak-anak FEB sempet sharing love life dan Farrah mengeluarkan pendapatnya tentang jodoh. Isi kalimatnya kurang lebih begini,
Aku percaya jodoh itu udah digarisin sama Tuhan. Aku nentuin pengen dapet jodoh yang kriterianya a, b,c. Tapi aku juga berusaha buat bisa ngimbangin karakter a, b, c itu. Kalau aku mau dapet jodoh yang sesuai sama kriteriaku, ya aku harus menjadi yang seperti itu dulu, soalnya hal baik apa yang aku lakuin sekarang, itu juga yang dilakuin sama jodohku di masa depan.” Kata-kata itupun membekas di otakku.

Aku yakin Farrah bukan orang yang sembarangan, yang ndeketin banyak tapi dia selektif. Farrah kelihatannya nyiapin kriterianya secara mateng. Sesuatu yang belum aku pikirin saat itu. Setelah kutelusuri emang beneran kata-katanya Farrah itu diyakini di ajaran islam. Lauhul Mahfudz.

Adien denger-denger katanya juga gitu. Farrah sempet cerita, “Aku mau nerima Adien soalnya dari awal deketin dia bilang, selama empat tahun dia nggak pacaran, nyiapin dirinya, ikut organisasi ini itu, bahkan jadi ketua. Dia pengen ada sesuatu yang dibanggain ketika nanti ketemu jodohnya.
Wah… bisa sama ya pandangan hidupnya sebelum mereka ketemu. Mungkin itu yang dijanjikan sama Allah tentang konsep sekufu, yang diartikan sama dalam pandangan agamanya. Agama yang berarti pedoman dalam memandang dan menjalani hidup, bukan sekedar sama-sama memeluk Islam.

Makasih Far pencerahannya. Maybe you act like your name, Hudayani: petunjuk. Farrah sering jadi inisiator, sehingga bikin temen-temen di lingkungannya bersatu buat melakukan sesuatu. Kadang dia juga sering jadi penengah, orang yang ngasih solusi ketika ada banyak pendapat dan tetep tampil apa adanya “Haha aku solutif nggak?” Farrah kayak anak kecil yang polos dan natural.

Farrah dan Adien tanggal 8 Oktober 2016 resmi bersatu. Kalian berdua kalau yang aku lihat berusaha menjalani sesuatu yang diajarkan islam dan menyesuaikannya sama dunia yang modern ini. Termasuk keinginan kalian untuk nggak main-main, membikin plan bukan sekedar janji atau jargon untuk berusaha meyakinkan orang tua kalian menyegerakan menikah setelah 1 tahun saling mengenal lebih dekat. Bahkan Farrah cerita, dia dan Adien bikin excel dan power point buat jadi semacam proposal ke orang tuanya bahwa mereka mampu secara finansial dan berkomitmen untuk hidup sederhana setelah menikah. Seserius itu, bener-bener anak manajemen yang terorganisir, kamu Far! Hahaha.

 

Kalian sadar pacaran berisiko dosa, disaat sebagian orang yang lain beranggapan bahwa itu adalah biasa. Karena sebenarnya di Islam, ada batasan cewe – cowo yang lebih banyak, tapi keinginan untuk mengimani ajaran-Nya yang jadi pembeda. Tapi kalau udah nikah, pegangan tangan aja jadi ladang pahala 😀

Kalian berdua tampak mempersiapan modal dan menyeriusi diri kalian dulu supaya waktu ketemu jodoh kalian nggak saling kecewa dan nggak mengecewakan pasangan. Konsep ikhtiar sekaligus juga qodho dan qodar, mungkin itu yang perlu banyak dipahami ketika bicara soal love life.

Di usia yang masih muda, Farrah 22 dan Adien tepat 23 di hari pernikahannya, umumnya, akan lebih banyak emosi yang akan tercurah, di usia-usia segitu. Tapi waktu makan bareng habis nemenin Farrah beli kain buat akad nikah, Farrah tampaknya udah cukup matang untuk mengimbangi Adien, menurunkan emosi, dan terasa lebih rendah hati dalam mengambil sikap.

Far, Adien, selamet menempuh hidup baru. Kalian emang berani. Tapi secara pribadi, aku berpandangan ini berani yang positif. Far, Adien, aku pernah baca artikel, isinya kurang lebih gini :
Jatuh cinta itu mudah. 10 menit juga bisa. Tertarik sama lawan jenis yang cantik atau cakep. Tapi beda sama bangun cinta. Itu butuh seumur hidup. Keinginan untuk saling memahami satu sama lain. menyisihan ego.

Makasih ya udah jadi panutan. Semoga pernikahan kalian samawa dan barokah. Kalian pastinya saling bersyukur udah sah jadi pasangan hidup. Aku yakin kalian bisa jadi pasangan yang saling mengisi satu sama lain. Selamat bangun cinta yaaa….

IMG-20161008-WA0043

 


Senyum Bahagia setiap Minggu

 

Monik, Bagas, and Aurel (Are the siblings. Their parents fight for receiving Kartu Indonesia Pintar in order to insert their children to enter top school in Jogja: SD Ungaran and SMP 1 Yogya.

Monik, Bagas, and Aurel (Are the siblings. Their parents fight for receiving Kartu Indonesia Pintar in order to insert their children to enter top school in Jogja: SD Ungaran and SMP 1 Yogya.

It’s always difficult for me to start writing (especially feature), but let me try to start writing by describing the picture above. It’s been 3 months every Sunday twice a month, I teach neighbor kids since beginning of September. At that time, I was a fresh graduate who was still confused to determine my goals: study or work. The only thing that I know is I want to see kids living near me to get spirit of studying as what miracle came to me 11 years ago when I failed to get accepted in my dreamed junior high school. I know that kids nearby my house were mostly less fortunate than me. It is apparent by their parent’s salary, family status, or house building. I also often listen my mother say about the non performing loan in housing credit.

Obviously by volunteering in Kampung Ramah Anak, I find my passion that I want to help my juniors find their spirit of studying. I can’t say that I am smart in teaching, it still far away from me. My English is still poor. I often speak and write in grammar mistake, yet through teaching I  get used to challenging my self to study through preparing the material and I figure out how to deliver the comprehensible material.  I can measure my happiness simply by looking their progress and by feeling their grit (Grit is described as one of the success secret by Angela Lee Duckworth https://www.youtube.com/watch?v=H14bBuluwB8 ). More importantly, I learn that I don’t have to do great things but I can to do small things with love.

 

Some of you who may  coincidentally read my blog and want to volunteer in our program, you can simply contact me through astrininovi@gmail.com. We are looking for your willingness to participate as a facilitator in English and non English science. We are also waiting your kindness to share your book (ensiklopedia) to be distributed to our members. Currently we have almost 20 active members living in RW 16 Baciro Yogyakarta ranging from 1st grade of elementary school to 3rd grade of junior high school). We conduct Kampung Ramah Anak Discussion every Sunday afternoon at 3.30-5.30 pm.


Young Leaders for Indonesia: Place Where a Journey Begin

Saya pertama kali tahu program YLI dari senior saya ketika masih semester 3, kemudian beberapa tahun setelahnya beberapa circle saya senantiasa memposting foto-foto kegiatannya hingga membuat saya begitu penasaran. Sempat mendaftar tahun 2014 dan gagal, akhirnya saya kembali meneguhkan tekat untuk mendaftar YLI 2015. Bisa dibilang saya menyiapkannya dengan cukup matang. Meskipun biasanya pendaftaran baru dibuka Maret, saya sudah mulai menyiapkan essay-nya sejak Januari. Saya meminta lima orang teman untuk mereview essay saya: Mas Royyan, Mbak Faela, dan Mas Ghufron, Lina dan Kak Diba. Mbak Faela dan Mas Ghufron adalah alumni YLI Wave 4. Ohya, saya juga meminta Bu Erma guru IELTS saya untuk mereview grammarnya.

Dari komentar Mas Royyan dan Mbak Faela, keduanya memberikan opini singkat yang hampir sama: yaitu essay saya datar dan tidak menonjolkan keunikan leadership saya. Dari Mas Ghufron, saya mendapat banyak masukan. Dia menjelaskan bahwa bisa jadi saya punya dampak yang besar bagi organisasi saya, tapi saya belum bisa menjual cerita itu dengan baik. Dia pun menjelaskan kalimat-kalimat mana yang perlu di-highlight dan mana yang perlu dibuang. Saya sempat bingung, apakah iya saya tidak se-inspirasional itu? Berarti saya tidak layak untuk masuk YLI. Saya kemudian mengontak salah satu sahabat terbaik saya, Lina. Di sebuah kafe Lina menunjukkan video dan essay teman-teman AIESECnya. Saya diberi tahu, bahwa essay yang bagus adalah essay yang kuat. Yang mampu menunjukkan fakta diawal paragraf dan bagaimana kontribusi kita pada fakta-fakta itu.

Saya berusaha mengingat-ingat lagi perjuangan saya di Equilibrium, organisasi yang saya ceritakan dalam essay leadership aplikasi YLI. Bisa dibilang saya berkorban cukup banyak. Indeks Prestasi saya menurun, tidak sesuai harapan. Saya berusaha memperbaiki SOP dan meng-attrack talent-talent baru untuk  membantu projek majalah. Saya berusaha meyakinkan tim marketing untuk kembali menjual majalah bukan sekedar dibagikan agar majalah kami memiliki nilai jual dan kerja keras tim dihargai. Kemudian Lina justru mengenalkan saya pada Kak Diba. Dia yang menjadi reviewer terakhir saya. Akhirnya, saya pun mengirimkan aplikasi dan taraa… 2 minggu setelahnya saya mendapat email bahwa saya menjadi kandidiat YLI dan akan menerima schedule interview (yang bisa dibilang 98% diterima). 

 

Anw i’ve been so tired. Let’s continue on the other time…


Menghidupkan Pers Mahasiswa Digital

Screenshot_2015-05-10-20-47-55

 

 Oleh : Astrini Novi Puspita, dimuat dalam WartaEQ.com

 

Akhir-akhir ini, banyak yang mempertanyakan eksistensi pers mahasiswa (persma). Dalam lingkaran persma sendiri diskusi lebih banyak berkutat pada nostalgia zaman keemasan persma tahun 1965 dan 1998 ketika persma menjadi bagian penting dari sejarah reformasi demokrasi di negeri ini. Kini, persma memang seperti kehilangan peminat, baik dari segi kuantitas redaktur yang berkualitas maupun antusias masyarakat yang menantikan produk gagasannya.

Diluar itu ada hal lain yang jauh meresahkan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyebutkan bahwa dari sekitar 200 juta penduduk di Indonesia, jumlah buku yang beredar setiap tahunnya hanya sebesar 50 juta saja. Kebiasaan membaca apalagi menulis memang sejak dulu bukan ciri yang bisa dibanggakan dari masyarakat Indonesia. Pakar media sosial Nukman Luthfie juga menuturkan bahwa pesatnya microblogging seperti facebook, twitter, LINE ternyata membuat minat masyarakat untuk mengakses berita maupun kebiasaan menulis mengalami penurunan.

Internet telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat urban dewasa ini. Survei InternetLiveStats (2015) yang dilansir dari laman wearsocial.net (2015) menyebutkan bahwa 42 persen dari total penduduk dunia saat ini sudah mengakses internet. Dari laman yang sama, Survei Global Web Index (2014) menyebut Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia dalam penggunaan media sosial (52.000.000 active user) dibawah Cina dan India. Setiap harinya, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu selama 5 jam untuk mengakses internet dan 2,9 jam dari itu digunakan untuk mengakses media sosial.

Pertumbuhan media sosial yang pesat tersebut tentu perlu disikapi agar arus perjuangan Persma tak surut dimakan zaman. Dalam pasar yang kompetitif seperti saat ini, buyer is the king. Persma harus siap memancing ceruk masyarakat yang hadir dalam ruang-ruang dunia maya. Produk persma seperti buletin selama ini dibagikan secara gratis meskipun ada biaya cetak yang harus ditanggung. Dengan bergesernya fokus ke digital, bukan tak mungkin persma justru bisa memperoleh peluang penghematan yang besar. Dengan berbagai pilihan registrasi website yang bervariasi mulai Rp 400.000,00 hingga Rp 3000.000,00 atau bahkan bisa diperoleh secara gratis, persma bisa menjaring target pembaca yang lebih luas. Pembaca bisa menjangkau produk persma dengan bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Wearsocial.net (2015) juga menjelaskan bahwa advertiser saat ini justru lebih menyukai pemasangan iklan melalui media digital dibanding media cetak. Lebih dari itu, persma digital bisa menjawab tuntutan untuk menghemat penggunaan kertas dari organisasi lingkungan seperti Greenpeace.

Persma digital juga bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berbagi gagasan. Ada banyak mahasiswa yang memiliki blog pribadi untuk mencurahkan hati dan berbagi kisah aktivitasnya. Akan tetapi, masih sedikit dari mereka yang membagikan tulisan edukatif tentang ilmu yang dimiliki atau berani menuliskan pandangan terhadap suatu headline peristiwa. Disini, pers mahasiswa bisa mengambil perannya dengan melahirkan generasi yang bangga untuk membagikan mereka melalui tulisan ke publik.

Bukan sesuatu yang sulit bagi organisasi persma untuk menginstal aplikasi LINE@, registrasi akun persma di facebook dan twitter, atau memiliki website. Yang sulit adalah menciptakan komitmen untuk menghadirkan produk yang tetap berkualitas dengan limit produksi yang pendek agar tantangan pers mahasiswa dalam menyajikan tulisan yang cepat tetap bisa diperhitungkan. Akan tetapi, bukankah cita-cita yang visioner selalu menjadi semangat bagi siapa saja yang mau belajar?

Persma digital juga perlu menentukan target sharing di LINE@ dan facebook, target hits atau rating di website, serta target retweet di twitter dari pembacanya. Persma digital juga perlu melakukan sinkronisasi dari setiap artikel yang dirilis di website dan semua media sosial yang dimiliki. Setiap aktivitas yang dilakukan organisasi memang harus diukur dengan specific, measurable, achieved, attainable, realistic, dan timely. Diatas itu semua, persma digital tetap perlu menegakkan etika jurnalistik agar tidak terbawa arus media digital umum yang sering mengabarkan berita hoax sehingga meresahkan masyarakat. Persma digital yang dikawal oleh generasi terdidik ini harus menjadi pilar dari bangkitnya reformasi media digital saat ini.

Dengan dibukanya keran informasi digital, sekali lagi pers mahasiswa harus dapat memanfaatkannya. Kita tentu berharap, akan lahir sosok baru yang menjadi penerus Soe Hok Gie atau Pramoedya Ananta Toer dari generasi persma digital. Perkembangan teknologi yang pesat dan memunculkan masyarakat digital dapat menjadi terobosan untuk mewujudkan cita-cita persma untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia secara lebih luas.

 


50 Hari: Bahagia dalam Kesederhanaan

Kak, KKN di Lombok enak ya bisa main terus?” Itu pertanyaan yang sering saya dapatkan dari adik kelas. Banyak yang mengira KKN di Lombok hanya berorientasi untuk senang-senang. Tapi itu benar juga karena begitu mudah untuk mendefinisikan arti kata “bersenang-senang” disana. Bagaimana tidak, jika setiap pulang mengajar selalu ada anak yang menghampiri kita lalu memberikan kerang hasil tangkapannya dan berkata “Ini untuk kakak. Jangan pulang ya. Saya sayang kalian,” atau mungkin begini, “Kak, kapan pulang? Besok lusa? Hmmm… pulangnya seminggu saja ya kak, lalu balik lagi kesini.” Maka, inilah cerita saya tentang negeri Sekotong Barat.

Kerang yang diberikan anak-anak setiap kami pulang mengajar. Batu berbentuk "jantung hati" itu saya temukan di pantai setempat

Kerang yang diberikan anak-anak setiap kami pulang mengajar kecuali batu berbentuk “jantung hati” itu yang saya temukan di pantai setempat

Desa Sekotong Barat pada mulanya dikenal sebagai daerah penghasil emas. Salah satu Kepala Divisi Bappeda Lombok Barat bercerita bahwa Newmount lah yang menemukan potensi emas disana. Akan tetapi, karena informasi tersebut bocor duluan, warga setempat kemudian menguasainya. Banyak warga yang dulunya nelayan beralih profesi menjadi penambang. Tapi kini banyak dari mereka yang menganggur karena keterbatasan alat untuk menggali logam mulia itu pada kedalaman tanah yang lebih dalam.

Bagi warga, tambang emas merupakan berkah yang mengubah kehidupan mereka sehingga dapat membeli motor, membeli tanah, mempercantik rumah, dan membeli sapi. Kini mereka hidup dengan simpanan pendapatan hasil menambang, tapi banyak dari mereka yang belum memiliki mata pencaharian tetap. Tentu saja, bila mereka tidak segera memiliki mata pencaharian baru, uang mereka akan segera menipis. Meski dulu berprofesi sebagai nelayan, bukan hal mudah untuk menjadikan mereka kembali melaut. Laut sering kali surut dan hasil ikan yang mereka peroleh belum dapat bersaing dengan desa lain. Meski begitu, Sekotong Barat memiliki potensi wisata laut yang biru jernih seperti karakteristik air laut di Gili Trawangan. Maka, menyiapkan masyarakat sekitar untuk mampu menghadapi potensi desa wisata adalah sebuah keniscayaan.

Aziz dan Zaini. Salah dua dari anak-anak yang sering main ke pondokan. Mereka bersepeda dengan jarak sekitar 6 kilometer untuk mengunjungi kami hampir setiap hari sebelum kami kembali ke Jogja. Hari itu kami bermain di dermaga depan pondokan

Aziz dan Zaini. Salah dua dari anak-anak yang sering main ke pondokan. Mereka bersepeda dengan jarak sekitar 6 kilometer untuk berkunjung hampir setiap hari sebelum kami kembali ke Jogja. Hari itu kami main di dermaga depan pondokan. Terlihat indah sekali, ya.

Kami tiba di Sekotong Barat pukul dua dini hari tanggal 12 Juli 2014 dengan disambut helai-helai daun dan plastik yang menghitam dan lembek di selokan. Aliran air selokan tidaklah deras dan berwarna kecoklatan. Jalan di depan pondokan tak mulus bagai keripik ampyang. Meski begitu, Tawun seperti layaknya daerah di Lombok pada umumnya punya bangunan publik yang bisa dibanggakan berupa masjid yang berdiri kokoh dan begitu mudah ditemui. Lombok memang dikenal sebagai pulau seribu masjid. Meski Lombok adalah negeri seribu masjid, ngaung suara anjing terdengar nyaring di telinga hampir di setiap waktu. Anjing-anjing liar itu rupanya tak ada empunya.

Hal yang begitu menyita perhatian kami adalah masalah pendidikan. Disini, saya seperti mengalami apa yang Andrea Hirata ceritakan tentang pendidikan di pelosok Belitung. Disini, saya seperti merasakan pentingnya gerakan seperti “Indonesia Mengajar”. Jangankan berpikir akan les dimana untuk persiapan masuk SMP, bocah kelas enam saja masih kesulitan ping poro lan sudo (pipolondo) atau perkalian, pembagian, dan pengurangan. Minggu lalu saya dapat kabar Robi, murid kelas enam SD 5 Sekotong Barat harus dropout karena disuruh ayahnya bekerja. Jangankan minta ibu belikan ice cream seperti anak-anak di kota, kasih sayang dari orang tua saja masih menjadi hal yang langka. Perceraian marak terjadi di desa karena menikah masih dibawah tangan. Saya tahu, bahwa hal semacam ini bukan hanya terjadi di desa saya tinggal. Teman-teman KKN dari pulau yang berbeda juga menceritakan hal yang hampir serupa. Kemiskinan, kurangnya pendidikan, kebersihan lingkungan adalah masalah klasik yang akan kita temui selama KKN.

Selain mengajar kelas lima SD, saya terlibat dalam program sosialisasi kewirausahaan, sosialisasi menabung, dan pelatihan bahasa inggris untuk pemuda. Program ini menarik minat masyarakat khusunya tour guide, resepsionis hotel, dan boatman. Sebenarnya ini merupakan program baru diluar rencana kami, tetapi karena adanya permintaan dari pemuda desa Sekotong Barat, maka kamipun membuatnya.

Bukit Kedaro. Dari sini kita bisa melihat Gili (maaf lupa namanya)  Ini bukit favorit saya. Di dekatnya ada Sundancer, 1 dari 2 resort yang ada di Sekotong Barat.

Bukit Kedaro. Dari sini kita bisa melihat Gili (Gili artinya pulau). Ini bukit favorit saya.

Lantas, pernyataan KKN di Lombok menyenangkan itu hanya isapan jempol belaka? Hmm.. ya jelas isapan jempol bagi yang berekspektasi untuk berwisata. Pantai di Lombok umumnya masih sepi (tak beretribusi, tak berbayar parkir, dan tak ada hammock, atau kursi tidur *kecuali Gili Trawangan*). Tapi Lombok, khususnya Sekotong Barat menawarkan pantai yang masih natural dan menciptakan kedamaian tersendiri, dan itu bisa saya nikmati setiap hari saat mengajar di sekolah karena pantai hanya tepat di seberangnya saja. Hingga kini saya dan teman-teman KKN masih aktif berkomunikasi dengan anak-anak SD tempat kami mengajar. Saya percaya bahwa hal yang bisa mengurangi gap antara masyarakat di kota dan di pelosok desa adalah komunikasi. Ucapan “semangat belajar ya dek. Semoga berhasil ujiannya.” Selalu diiringi dengan riang tawa dan semangat di penghujung telfon.

Umumnya, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan KKN adalah komunikasi dengan warga setempat. Banyak dari mahasiswa KKN yang belum pandai menempatkan diri dalam bergaul di masyarakat desanya. Contoh simpel saja, dalam pemilihan bahasa. Seringkali mahasiswa terbiasa untuk menerima penjelasan kuliah dari dosen dengan bahasa yang formal dengan istilah-istilah keilmuan. Tanpa sadar untuk menyosialisasikan program, mereka juga menggunakan istilah ilmiah tersebut. Misalnya, penggunaan istilah “segmentasi”, “harga pokok penjualan” pada saat sosialisasi UMKM. Masyarakat desa yang belum familiar dengan ilmu bisnis akan sulit memahami. Yang ada warga justru bingung dan ngobrol sendiri saat sosialisasi.

Selain bahasa, kendala lainnya adalah ketidakmampuan untuk dekat dengan warga. Kalau di tim KKN ada yang merokok dan suka minum kopi, ada baiknya mereka menempatkan diri untuk pendekatan kepada warga yang juga melakukannya. Duduk bersama di berugak atau gazebo adalah cara yang tim kami lakukan dulu. Anggota yang perempuan bisa melakukan pendekatan dengan ikut rewang (memasak dan sebagainya) saat ada acara di desa atau mengajar ngaji bagi yang muslim. Jangan lupa, tempatkan juga orang yang mampu menjadi penyambung lidah untuk berkomunikasi dengan Pak Camat, Pak Lurah, atau Pak Bupati. Semua anggota harus mampu memilih tiga peran komunikasi itu. Jangan sampai peran komunikasi pada seluruh elemen masyarakat desa hanya dilakukan beberapa anggota kelompok KKN saja. Kita hanya akan lelah dan saling menyalahkan. Akan ada banyak pelajaran yang menempa teman-teman selama KKN. Bisa jadi beberapa dari kita menganggapnya tidak relevan dengan karir kedepan. Tapi saya yakin, hanya dengan menjalin komunikasi, manusia kota dan desa sama-sama memperoleh sesuatu yang bermakna.


Making Motivation Letter ala me

Hi guys, several days ago I joined TOTAL SUMMER SCHOOL selection process. Actually the result has not been announced yet, but my motivation letter will be a trash in my p.c. folder if I keep them only. So, I think it will be more beneficial if I share to you… I don’t know if it is good or not and some success people seldom share their motivation letter, but personally making motivation letter is hardy enough and taking much time. I need to update information about the current issue and dig my personal value. So, I am sure that motivation letter can’t be the same for every person and you can’t cheat in mine. I hope that my story will have a mean and give another view for you.

I remembered the day when our family were back to my grandma’s house in Empat Lawang, South Sumatra. It was really difficult to access gasoline for the need of the society there who have to take their harvest and coffee bean to the nearest city. We had to go to Kepahiyang, located 40 kilometers away to reach petrol stations. There are only few small petrol retailers in Pasemah with uncertainty stock until right now. Similar experience also happened to me when I was living in Sekotong Barat Lombok to initiate a student social project. Many fisherman hardly accessed gasoline sold by a small oil retailer who marked it up by IDR 2000 – 3000/liter.

Besides, today people in the world are frightened about the energy stock limit. Karen Agustiawan, the previous Head of Pertamina Corporation had a speech on CSIS Forum in Washington DC mentioning that Asia Pacific demand of energy consumption would increase up to 63.4%. It would become 7,8 billion in 2030. She said that today Indonesia oil reserve produced maximize 861,000 barrel while we needed 1,6 million demands each day.

Fortunately, Indonesia is handful with some resources such as bio-ethanol and coal bed methane predicted as the one of the sixth largest in the world. Pertamina as affirm business entity has budget US$ 1,5 billion to flourish two hundreds exploration wells. The exploration of potential coal bed methane needs an overseas company for instance TOTAL Corporation in order to shorten the length of learning curve in technology. This problem leads financial perspective to calculate cost benefit analysis to attract investor to make business plans become real. Finance Management has a role to open access of easiness for investor to have facilities such as tax compensation, waivers of working capital and simplifying licensing process.

On the other hand, today TOTAL is a part of institutions facing Arab Spring flaming which influence world oil prices. The world oil prices decreases while off-shore production cost is higher than that of the competitors from the Middle East that have a big power of supply, at 90 percents of oil and gas. Thus, TOTAL needs to build a retail nets in order to catch return from the downstream sector. Indonesia and TOTAL should collaborate to develop retail net in a remote area that cannot be reached by Pertamina.

Today I am studying business majoring in Finance. I would be really happy if I could study about energy sector so that i can get involved in term of finance, business ethics, geo-politic, and risk management discussion. Maintaining energy centainly does not only need geological perspective, but also humaniora and business to make them implemented. Moreover this event will be held in France, a country where traditional culture mixed with modernity. I would be glad to connect to people from all over the world interesting in energy sector. I am proud of representing Indonesia and building connection with 120 students from all over the world. Even when the program is ended, we will still communicate each other. Besides, I have a passion in writing. I have experiences as an Editor in Chief. Now I am an active blogger. I am optimist to share an experience from TOTAL Summer School to my friends in my country by my blog, so I can inspire them. In brief, this program is just a start to build my passion to work in energy field aftermath of my study.