Tahu Diri

Beberapa minggu kemarin adalah minggu yang cukup berat. Bisa dibilang ujian mental sih. Hahaha. Saya sempet menjalani relationship dengan seorang pria. Cowok ini bisa dibilang punya karakter yang 180 derajat beda banget sama saya. Dia orang yang cenderung ramah, celelekan, konyol, tapi kalau udah ngerjain sesuatu bisa jadi serius banget sih. Awal dideketin saya nggak mau. Saya sampe nolak 3 kali.

Dia deketin dari Oktober 2015. Terus saya tolak. Terus dia deketin lagi Desember 2015. Saya tolak lagi di bulan Januari 2016. Terus dia deketin di bulan Maret 2016 lalu saya tolak lagi tapi akhirnya saya terima.

Saya menolak karena saya sadar dia sama saya beda background. Dia yang anak kos selama sepuluh tahun cenderung suka main sementara saya nggak pernah tinggal pisah dari orang tua dan merupakan anak rumahan. Sikapnya yang konyol juga sering bikin saya ilfeel dan bingung. Disamping itu, saya sendiri memang cenderung takut setiap kali deket sama lawan jenis karena ada trauma tersendiri pernah gagal masuk SMP favorit gara-gara sering telpon-telponan sama temen cowok waktu kelas 6 SD yang bikin jadi nggak fokus belajar. Akhirnya skip pacaran sejak SMP sampe kuliah. Dan waktu baru aja lulus, akhirnya ketemu doi.

Akhirnya saya dan dia pun tiap seminggu sekali jadi mengagendakan untuk jalan bareng. Seringnya makan aja sih. Ibu saya termasuk ibu yang protektif sehingga saya dan dia seringnya pergi hanya saat siang sampai sore hari. Di tengah-tengah kami pacaran, saya merasakan dia mulai berubah. Dia yang dulu sholatnya bolong-bolong, jadi 5 waktu.

Pernah saya sedang berhalangan dan sengaja untuk nggak ngingetin dia solat, tapi dia yang kemudian minta waktu supaya bisa sholat. Saya senang dia mulai berubah dan entah kenapa juga saya seperti punya ekspektasi untuk membawa kehidupan kami sama-sama menuju jalan yang Allah ridhoi. Beberapa kerabat di kampusnya pun positif menyambut kehadirannya saya. Saya beberapa kali pernah diajak makan bersama.

Meski begitu, dalam hati saya selalu ada rasa bersalah sendiri. Jujur sebelum saya dan mantan sering jalan bareng, saya pernah istikharah dan jawaban yang saya dapatkan adalah “berteman saja lalu taaruf”. Taaruf disini diartikan dengan perkenalan yang dibatasi dengan adanya pihak ketiga untuk menghindari khalwat. Tiba-tiba saja kemudian dapat petunjuk dari seorang teman yang baru saya kenal tentang proses taaruf yang dia jalani dan kenapa banyak ulama yang menyarankan proses taaruf dengan didampingi pihak ketiga itu, seperti untuk menghindari pacaran yang dikhawatirkan akan membuat mereka berdua-duaan, zina hati, zina mata, maupun zina yang lebih buruk lagi. Akan tetapi, yang ada saya tak berani untuk mengatakan itu di bulan Januari 2016. Saya nggak berani, apalagi ketika itu dia adalah senior di tempat kerja. Kami terbiasa berinteraksi dan jadi saling mengisi satu sama lain.

Kekhawatiran saya makin menjadi manakala saya jadi rutin dengerin pengajiannya ustadz felix siauw. Wkwkwk. Yang intinya ajakan untuk menghalalkan hubungan atau menyudahinya. Mantan saya mengaku bahwa dia tidak bisa menikahi saya tahun itu karena dia ingin kehidupan finansialnya stabil dan dia sendiri belum dapat restu untuk menikah dari ibunya. Saya pun akhirnya istikharah berkali kali demi memantapkan hati untuk menyudahi hubungan kami. Saya takut rasa sayang yang saat itu sedang menggebu membuat saya jadi pegangan tangan, pelukan, seperti orang-orang pacaran pada umumnya, yang mana hal-hal seperti itu dianggap lumrah.

Tapi setelah putus, memang kemudian saya tidak dengan begitu saja melupakan dia. Dalam doa saya masih terselip namanya dan mengharapkan agar Tuhan mempertemukan kami saat kami benar-benar sudah siap dan menjadi pribadi yang lebih baik dibanding sebelumnya. Saya seperti lupa pada surat putus yang saya tulis sendiri bahwa saya ikhlas kami berpisah. Nyatanya keikhlasan itu masih diiringi dengan harap. Tapi anehnya, saya merasa sok kuat dan kadang juga ragu untuk menerima sikanya yang konyol itu.

Empat bulan kami berpisah. Awal Januari saya kecelakaan dan dia mengetahuinya lewat pesan izin rapat di group kantor yang saya kirimkan. Seperti anggota grup yang lain, dia mengucapkan semoga saya cepat sembuh. Saya sempat berharap saat itu bahwa dia akan menghubungi saya secara personal untuk sekedar menanyakan keadaan, tapi ternyata tidak. Dia hanya bertanya tiga hari kemudian saat kami ketemu rapat di kantor. Jujur saya kecewa. Tapi keesokan harinya kekecewaan itu tetap tak mampu membuat saya untuk acuh tak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya lewat pesan pribadi.

Ditinggal keluarga saya keluar kota dan harus sendirian di rumah membuat suasana hati jadi makin sepi. Hingga akhirnya mengingat peristiwa di bulan Januari seperti membukakan mata hati saya yang delusional itu. Keadaan tak lagi sama. Tapi kemudian saya tersadar setelah cerita dengan seorang teman, bahwa saya harus objektif. Mungkin dia tipe yang hanya akan menyayangi ketika merasa memiliki dan memilih tidak peduli saat dirinya tak lagi memiliki.

Siapa saya. Saya harus tahu diri. Hidup bukan tentang harapan kita pada orang lain. Hidup ini tentang menerima, bertahan, dan menjadikan hidup bahagia lewat apa yang bisa kita amalkan.

Bisa dibilang apa yang saya alami itu disebut denial bahkan sejak pertama kali saya bertemu dia. Saya tidak mengakui perasaan yang masih tersimpan hingga saya lelah sendiri. Dan setelah saya mengakui semua ini pada apa yang saya tuliskan disini, saya merasa lebih lega bahkan saya baca berkali-kalipun tidak masalah karena saya bisa objektif menilai diri saya sendiri dan tidak larut pada perasaan masa lalu. Dalam hati saya selalu menyimpan kata-kata “Saya dan dia telah berpisah. Allah akan berikan yang terbaik untuk saya jika saya menjadi baik untuk Allah SWT”

Dan di hari ini saya merasa bahwa ada sekian harapan yang orang tua titipkan pada saya. Mereka masih menginginkan saya bekerja di perusahaan yang lebih bonafit lagi. Saya juga belum tes IELTS. Belum juga hafal lengkap satu juz.

Apa yang terjadi tahun lalu sangat berbeda dengan apa yang terjadi di tahun ini. Apapun yang terjadi memang hidup ini seperti sebuah misteri.

Jika Umar Bin Khatab yang dulu pernah mau membunuh Nabi saja kemudian menjadi sahabat yang sangat berani membela beliau, Jefri Al Bukhori yang dulunya pecandu narkoba bisa jadi ustadz, tentunya saya tak sepantasnya hanya melihat masa lalunya saja. Meski begitu, saya harus melihat dia di masa kini, dan pastinya menerima keadaan yang tak lagi sama dan tak lagi berdelusi.

Kita punya kesempatan untuk merencanakan hidup, maka rencanakanlah hidup sebaik-baiknya. Biarkan Allah yang akhirnya memberikan jawaban yang terbaik dari rencana baik kita.


Belajar Sabar di Awal 2017

Hallo,

Ternyata menulis itu bikin rindu, tapi ia bukan candu. Ia menumbuhkan harapan baru, peringatan bagi diri sendiri, penyemangat yang bisa dibaca lagi.

Alhamdulillah hari ini lututku sudah bisa kufungsikan seperti sedia kala. Sekarang aku sudah lepas dari duduk di kursi baik untuk sholat ataupun mandi.

Selama lima belas hari kemarin, lututku nyaris kaku untuk bergerak dan tak bisa kena air karena luka kecelakaan. Sempat merasa kaki ini hanya luka ringan di hari ketiga kecelakaan, membuat aku mengindahkannya. Aku masih membuat power point untuk presentasi, berangkat presentasi laporan akhir, naik turun tangga dan sebagainya. Hingga kemudian, kaki ini ternyata infeksi. Lututku mengeluarkan cairan yang tak ada habisnya, badan terasa lemah karena kurang cairan, dan belum lagi sufratul (sisa perban alkohol) yang menempel tidak bisa dilepas untuk diganti. Alhasil kakipun terasa kaku sekali untuk bergerak. Ditambah pak bos pun yang mengira aku udah sudah sembuh tidak tahu kondisiku setelahnya menyuruh untuk menyelesaikan laporan akhir. “Ah sok-sokannya kemarin merasa sehat. Hingga bingung harus menjelaskan bagaimana bahwa saya drop habis-habisan setelahnya” Belum lagi ada masalah lain yang cukup menguras emosi.

 

Tapi ternyata, disitulah Tuhan punya cara untuk menumbukan ikatan emosional kepada makhluknya.

Aku yang beberapa kali menangis meratapi luka itu,  membuatku mama khawatir.  Keluarga mengajak ke dokter lagi tapi aku menolak. Akhirnya mama dengan sangat telaten membantu mengobatinya. Ia duduk lebih rendah dariku dan berubah menjadi seorang perawat.  Melihat cintanya yang begitu tulus, menumbuhkan keberanian bahwa aku harus bisa merawat lukaku sendiri. Besoknya, dengan perasaan yang campur aduk: kesakitan karena luka sufratul, merasa diabaikan seseorang, serta tumbuhnya keyakinan bahwa sabar adalah satu-satunya pilihan yang akan membuahkan hasil tanganku telaten membersihkan sisa-sisa sufratul yang membuat kakiku jadi seperti terikat dalam tempurung.

Innallaha ma’a shobbiriin….. sesungguhnya Alla itu bersama orang-orang yang sabar.

 

Dan hari ini rasanya begitu nikmat. Aku bisa merasakan betapa mengamati perkembangan luka yang membaik itu sangat menyenangkan, bagaikan punya bayi. 🙂

 


Who is A truly kind people?

I got an accident yesterday.

There was a message before I drove that caused me thinking during driving. I know I’m actually a truly slob person and not a good driver too. I tried to pass a car in front of me but suddenly there was a car behind wanted to pass me too. The street that came into narrow led me swerve to the left but there was sand which then made me fell. I was like surfing on…… asphalt.

It’s still hurt until now.

But, I am grateful because Allah still save my live.

He still shield me from another bigger wound.

And there were kindhearted people who helped me yesterday. Two women. One saved my motorcycle and the other one accompanied me go to Gadjah Mada Medical Center. I didn’t interact much with the first one, because she had another business after securing my bike. The second – a woman with big veil – waited me during the medication, bought mineral water, paid my drugs, and looked after my bags. When I asked about her schedule, she mentioned that she postponed it.

You know, I never had an experience to help people in traffic accident because I never met during driving, but God really loves me through sending strangers to help me and make me learn a lesson.

We know that generally people do a good deeds because of incentive behind or they take care of somebody because of love reason. But helping strangers is a special.

In traffic accident, people are mostly thinking twice to help because they have business or they are just watching other people to help. But those people who help – not just watching nor hoping the incentive to help a stranger – is one of a truly kindhearted people in my mind. TULUS. We call it in bahasa.

And I hope I can be surrounded by more people like that – people who focus on the good deeds and keep away any kinds of negativity both thought and action – for making me be a better person, be grateful, and feel the God’s grace.

Don’t let negativity ruin us. Also, don’t mix up negativity and positivity because it will harsh even worse. We may assume that we do a good deeds but actually never. We are just being fooled by ourselves.

Islam-Iman-Ihsan. Those are the goals of human in the world rite?

15873215_10207997632086181_3947008666669258442_n

 

 

 

 

 


Aku suka, tapi lebih suka

Aku suka caramu memperlakukanku
Tapi aku lebih suka caramu memperlakukan dirimu sendiri
Aku lebih suka caramu memperlakukan entitas yang ada di atasmu (Tuhan)
Aku lebih suka caramu memperlakukan perantara yang membawamu ke dunia (Ayah dan ibumu)
Aku lebih suka caramu memperlakukan adik-kakakmu, keluarga, dan orang-orang terdekatmu

Aku bukan suka caramu memandangku
Aku suka caramu memandang dunia

Aku suka caramu berbicara padaku
Tapi aku lebih suka caramu berbicara pada penciptamu (sholat)
Aku suka caramu menyimak ucapanku
Tapi aku lebih suka caramu menyimak petunjuk Tuhanmu (mambaca Al-quran)
Aku suka caramu membuka hatimu untukku
Tapi aku lebih suka caramu membuka hatimu untuk Rabb-mu (belajar agama)

Aku suka caramu merindukanku
Tapi aku lebih suka caramu merindukan Rabb-mu
Aku suka caramu mencariku
Tapi aku lebih suka caramu mencari keberadaan Rabb-mu

Aku bahagia kau mendekatiku, tapi lebih bahagia kau mendekati Tuhanmu dulu

Aku bahagia atas caramu menemuiku
Tapi aku lebih bahagia caramu menemui Tuhanmu


Membela Agama

Tuh kan beneran. Beneran ada temen yang jadi phobia sama agamanya sendiri karena merasa agamanya jadi bikin dia benci sama agama lain. Padahal…
Padahal yang dia liat itu cuma sebagian golongan aja
Dia belum liat sebagian golongan lain atau ajaran lain yang diajarkan
Ibarat baca cerita, dia baru baca setengah, atau halaman depan, tapi udah nyimpulin cerita akhirnya
Kesel,
Dulu kesel sama oknum-oknum yang suka muncul di permukaan
Yang mengatasnamakan islam
Yang merasa membela tapi tidak melihat dampak buruk ukhuwah islamiyah di dalamnya
Kejadian kayak begini bahkan bikin temen aku jadi agnostik
Atau bikin orang-orang sholeh dan sholehah terpinggirkan
Kenapa? Karena mereka yang menggunakan jilbab besar misalnya atau bercelana congklang jadi dianggap sama seperti mereka yang membela itu
Tidak bisakah kita mencegah kemungkaran dengan cara yang rahmatan lil alamin?
Dengan cara yang damai dan tak main hakim sendiri?
Kesal,
Karena saya pun tahu benar bagaimana perjuangan muslim minoritas dengan atribut keislamannya di luar negeri dikucilkan karena mereka dianggap radikal
Saya tak mau sebut kalian yang membela radikal
Karena saya tahu kalian tak punya maksud demikian
Tapi tindakan main hakim sendiri dan memaksakan
Serta menunjukkan betapa banyaknya kita dibanding mereka yang sedikit
Meski bila kita benar justru membuat kita seperti tak mengormati hukum dan menekan yang lemah
Kita perlu pakai cara yang lebih cerdas kawan
Atau gunakan cara yang lebih elegan
Lobying
Atau bahkan
Maafkan saja dia
Dan biarkan Tuhan yang menunjukkan kuasanya


Looking for Deen

Who am I?
Who are you?
And who’s the deen?
Have we known Him?
Can we find Him?

If you can’t find me within you, it means that you don’t know me
If I can’t find you within me, it means that I don’t know you

If I can’t find deen within me, it means that I don’t know Him
If you can’t find deen within you, it means that you don’t know Him
If we can’t find deen within us, it means that we don’t know Him

I hope that you’ve found deen, before you finally found me
I hope that I’ve found deen, before I finally found you
And finally we are being one under the deen light


Farrah & Adien’s Marriage Story

Hari Senin seminggu yang lalu, sekitar jam 10 malam ada line dari Farrah, minta bantuan.

IMG_20161009_093531[1]
Astriiiii, nanti pas resepsi jam 8 ada friend’s speech gitu di weddingku. Aku pengen kamu salah satunya beb. Bisa? Yang mengharukan gitu nanti diiringi sama instrumental dari band. Lebih ke tentang aku gimana orangnya, pesan untuk Adien tentang aku, sama ucapan buat kita berdua.”

Omg seriously I am. Wkwk”, responku.

Seketika aku flashback ke masa KKN, kami anak-anak FEB sempet sharing love life dan Farrah mengeluarkan pendapatnya tentang jodoh. Isi kalimatnya kurang lebih begini,
Aku percaya jodoh itu udah digarisin sama Tuhan. Aku nentuin pengen dapet jodoh yang kriterianya a, b,c. Tapi aku juga berusaha buat bisa ngimbangin karakter a, b, c itu. Kalau aku mau dapet jodoh yang sesuai sama kriteriaku, ya aku harus menjadi yang seperti itu dulu, soalnya hal baik apa yang aku lakuin sekarang, itu juga yang dilakuin sama jodohku di masa depan.” Kata-kata itupun membekas di otakku.

Aku yakin Farrah bukan orang yang sembarangan, yang ndeketin banyak tapi dia selektif. Farrah kelihatannya nyiapin kriterianya secara mateng. Sesuatu yang belum aku pikirin saat itu. Setelah kutelusuri emang beneran kata-katanya Farrah itu diyakini di ajaran islam. Lauhul Mahfudz.

Adien denger-denger katanya juga gitu. Farrah sempet cerita, “Aku mau nerima Adien soalnya dari awal deketin dia bilang, selama empat tahun dia nggak pacaran, nyiapin dirinya, ikut organisasi ini itu, bahkan jadi ketua. Dia pengen ada sesuatu yang dibanggain ketika nanti ketemu jodohnya.
Wah… bisa sama ya pandangan hidupnya sebelum mereka ketemu. Mungkin itu yang dijanjikan sama Allah tentang konsep sekufu, yang diartikan sama dalam pandangan agamanya. Agama yang berarti pedoman dalam memandang dan menjalani hidup, bukan sekedar sama-sama memeluk Islam.

Makasih Far pencerahannya. Maybe you act like your name, Hudayani: petunjuk. Farrah sering jadi inisiator, sehingga bikin temen-temen di lingkungannya bersatu buat melakukan sesuatu. Kadang dia juga sering jadi penengah, orang yang ngasih solusi ketika ada banyak pendapat dan tetep tampil apa adanya “Haha aku solutif nggak?” Farrah kayak anak kecil yang polos dan natural.

Farrah dan Adien tanggal 8 Oktober 2016 resmi bersatu. Kalian berdua kalau yang aku lihat berusaha menjalani sesuatu yang diajarkan islam dan menyesuaikannya sama dunia yang modern ini. Termasuk keinginan kalian untuk nggak main-main, membikin plan bukan sekedar janji atau jargon untuk berusaha meyakinkan orang tua kalian menyegerakan menikah setelah 1 tahun saling mengenal lebih dekat. Bahkan Farrah cerita, dia dan Adien bikin excel dan power point buat jadi semacam proposal ke orang tuanya bahwa mereka mampu secara finansial dan berkomitmen untuk hidup sederhana setelah menikah. Seserius itu, bener-bener anak manajemen yang terorganisir, kamu Far! Hahaha.

 

Kalian sadar pacaran berisiko dosa, disaat sebagian orang yang lain beranggapan bahwa itu adalah biasa. Karena sebenarnya di Islam, ada batasan cewe – cowo yang lebih banyak, tapi keinginan untuk mengimani ajaran-Nya yang jadi pembeda. Tapi kalau udah nikah, pegangan tangan aja jadi ladang pahala 😀

Kalian berdua tampak mempersiapan modal dan menyeriusi diri kalian dulu supaya waktu ketemu jodoh kalian nggak saling kecewa dan nggak mengecewakan pasangan. Konsep ikhtiar sekaligus juga qodho dan qodar, mungkin itu yang perlu banyak dipahami ketika bicara soal love life.

Di usia yang masih muda, Farrah 22 dan Adien tepat 23 di hari pernikahannya, umumnya, akan lebih banyak emosi yang akan tercurah, di usia-usia segitu. Tapi waktu makan bareng habis nemenin Farrah beli kain buat akad nikah, Farrah tampaknya udah cukup matang untuk mengimbangi Adien, menurunkan emosi, dan terasa lebih rendah hati dalam mengambil sikap.

Far, Adien, selamet menempuh hidup baru. Kalian emang berani. Tapi secara pribadi, aku berpandangan ini berani yang positif. Far, Adien, aku pernah baca artikel, isinya kurang lebih gini :
Jatuh cinta itu mudah. 10 menit juga bisa. Tertarik sama lawan jenis yang cantik atau cakep. Tapi beda sama bangun cinta. Itu butuh seumur hidup. Keinginan untuk saling memahami satu sama lain. menyisihan ego.

Makasih ya udah jadi panutan. Semoga pernikahan kalian samawa dan barokah. Kalian pastinya saling bersyukur udah sah jadi pasangan hidup. Aku yakin kalian bisa jadi pasangan yang saling mengisi satu sama lain. Selamat bangun cinta yaaa….

IMG-20161008-WA0043

 


Senyum Bahagia setiap Minggu

 

Monik, Bagas, and Aurel (Are the siblings. Their parents fight for receiving Kartu Indonesia Pintar in order to insert their children to enter top school in Jogja: SD Ungaran and SMP 1 Yogya.

Monik, Bagas, and Aurel (Are the siblings. Their parents fight for receiving Kartu Indonesia Pintar in order to insert their children to enter top school in Jogja: SD Ungaran and SMP 1 Yogya.

It’s always difficult for me to start writing (especially feature), but let me try to start writing by describing the picture above. It’s been 3 months every Sunday twice a month, I teach neighbor kids since beginning of September. At that time, I was a fresh graduate who was still confused to determine my goals: study or work. The only thing that I know is I want to see kids living near me to get spirit of studying as what miracle came to me 11 years ago when I failed to get accepted in my dreamed junior high school. I know that kids nearby my house were mostly less fortunate than me. It is apparent by their parent’s salary, family status, or house building. I also often listen my mother say about the non performing loan in housing credit.

Obviously by volunteering in Kampung Ramah Anak, I find my passion that I want to help my juniors find their spirit of studying. I can’t say that I am smart in teaching, it still far away from me. My English is still poor. I often speak and write in grammar mistake, yet through teaching I  get used to challenging my self to study through preparing the material and I figure out how to deliver the comprehensible material.  I can measure my happiness simply by looking their progress and by feeling their grit (Grit is described as one of the success secret by Angela Lee Duckworth https://www.youtube.com/watch?v=H14bBuluwB8 ). More importantly, I learn that I don’t have to do great things but I can to do small things with love.

 

Some of you who may  coincidentally read my blog and want to volunteer in our program, you can simply contact me through astrininovi@gmail.com. We are looking for your willingness to participate as a facilitator in English and non English science. We are also waiting your kindness to share your book (ensiklopedia) to be distributed to our members. Currently we have almost 20 active members living in RW 16 Baciro Yogyakarta ranging from 1st grade of elementary school to 3rd grade of junior high school). We conduct Kampung Ramah Anak Discussion every Sunday afternoon at 3.30-5.30 pm.


Young Leaders for Indonesia: Place Where a Journey Begin

Saya pertama kali tahu program YLI dari senior saya ketika masih semester 3, kemudian beberapa tahun setelahnya beberapa circle saya senantiasa memposting foto-foto kegiatannya hingga membuat saya begitu penasaran. Sempat mendaftar tahun 2014 dan gagal, akhirnya saya kembali meneguhkan tekat untuk mendaftar YLI 2015. Bisa dibilang saya menyiapkannya dengan cukup matang. Meskipun biasanya pendaftaran baru dibuka Maret, saya sudah mulai menyiapkan essay-nya sejak Januari. Saya meminta lima orang teman untuk mereview essay saya: Mas Royyan, Mbak Faela, dan Mas Ghufron, Lina dan Kak Diba. Mbak Faela dan Mas Ghufron adalah alumni YLI Wave 4. Ohya, saya juga meminta Bu Erma guru IELTS saya untuk mereview grammarnya.

Dari komentar Mas Royyan dan Mbak Faela, keduanya memberikan opini singkat yang hampir sama: yaitu essay saya datar dan tidak menonjolkan keunikan leadership saya. Dari Mas Ghufron, saya mendapat banyak masukan. Dia menjelaskan bahwa bisa jadi saya punya dampak yang besar bagi organisasi saya, tapi saya belum bisa menjual cerita itu dengan baik. Dia pun menjelaskan kalimat-kalimat mana yang perlu di-highlight dan mana yang perlu dibuang. Saya sempat bingung, apakah iya saya tidak se-inspirasional itu? Berarti saya tidak layak untuk masuk YLI. Saya kemudian mengontak salah satu sahabat terbaik saya, Lina. Di sebuah kafe Lina menunjukkan video dan essay teman-teman AIESECnya. Saya diberi tahu, bahwa essay yang bagus adalah essay yang kuat. Yang mampu menunjukkan fakta diawal paragraf dan bagaimana kontribusi kita pada fakta-fakta itu.

Saya berusaha mengingat-ingat lagi perjuangan saya di Equilibrium, organisasi yang saya ceritakan dalam essay leadership aplikasi YLI. Bisa dibilang saya berkorban cukup banyak. Indeks Prestasi saya menurun, tidak sesuai harapan. Saya berusaha memperbaiki SOP dan meng-attrack talent-talent baru untuk  membantu projek majalah. Saya berusaha meyakinkan tim marketing untuk kembali menjual majalah bukan sekedar dibagikan agar majalah kami memiliki nilai jual dan kerja keras tim dihargai. Kemudian Lina justru mengenalkan saya pada Kak Diba. Dia yang menjadi reviewer terakhir saya. Akhirnya, saya pun mengirimkan aplikasi dan taraa… 2 minggu setelahnya saya mendapat email bahwa saya menjadi kandidiat YLI dan akan menerima schedule interview (yang bisa dibilang 98% diterima). 

 

Anw i’ve been so tired. Let’s continue on the other time…


Menghidupkan Pers Mahasiswa Digital

Screenshot_2015-05-10-20-47-55

 

 Oleh : Astrini Novi Puspita, dimuat dalam WartaEQ.com

 

Akhir-akhir ini, banyak yang mempertanyakan eksistensi pers mahasiswa (persma). Dalam lingkaran persma sendiri diskusi lebih banyak berkutat pada nostalgia zaman keemasan persma tahun 1965 dan 1998 ketika persma menjadi bagian penting dari sejarah reformasi demokrasi di negeri ini. Kini, persma memang seperti kehilangan peminat, baik dari segi kuantitas redaktur yang berkualitas maupun antusias masyarakat yang menantikan produk gagasannya.

Diluar itu ada hal lain yang jauh meresahkan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyebutkan bahwa dari sekitar 200 juta penduduk di Indonesia, jumlah buku yang beredar setiap tahunnya hanya sebesar 50 juta saja. Kebiasaan membaca apalagi menulis memang sejak dulu bukan ciri yang bisa dibanggakan dari masyarakat Indonesia. Pakar media sosial Nukman Luthfie juga menuturkan bahwa pesatnya microblogging seperti facebook, twitter, LINE ternyata membuat minat masyarakat untuk mengakses berita maupun kebiasaan menulis mengalami penurunan.

Internet telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat urban dewasa ini. Survei InternetLiveStats (2015) yang dilansir dari laman wearsocial.net (2015) menyebutkan bahwa 42 persen dari total penduduk dunia saat ini sudah mengakses internet. Dari laman yang sama, Survei Global Web Index (2014) menyebut Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia dalam penggunaan media sosial (52.000.000 active user) dibawah Cina dan India. Setiap harinya, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu selama 5 jam untuk mengakses internet dan 2,9 jam dari itu digunakan untuk mengakses media sosial.

Pertumbuhan media sosial yang pesat tersebut tentu perlu disikapi agar arus perjuangan Persma tak surut dimakan zaman. Dalam pasar yang kompetitif seperti saat ini, buyer is the king. Persma harus siap memancing ceruk masyarakat yang hadir dalam ruang-ruang dunia maya. Produk persma seperti buletin selama ini dibagikan secara gratis meskipun ada biaya cetak yang harus ditanggung. Dengan bergesernya fokus ke digital, bukan tak mungkin persma justru bisa memperoleh peluang penghematan yang besar. Dengan berbagai pilihan registrasi website yang bervariasi mulai Rp 400.000,00 hingga Rp 3000.000,00 atau bahkan bisa diperoleh secara gratis, persma bisa menjaring target pembaca yang lebih luas. Pembaca bisa menjangkau produk persma dengan bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Wearsocial.net (2015) juga menjelaskan bahwa advertiser saat ini justru lebih menyukai pemasangan iklan melalui media digital dibanding media cetak. Lebih dari itu, persma digital bisa menjawab tuntutan untuk menghemat penggunaan kertas dari organisasi lingkungan seperti Greenpeace.

Persma digital juga bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berbagi gagasan. Ada banyak mahasiswa yang memiliki blog pribadi untuk mencurahkan hati dan berbagi kisah aktivitasnya. Akan tetapi, masih sedikit dari mereka yang membagikan tulisan edukatif tentang ilmu yang dimiliki atau berani menuliskan pandangan terhadap suatu headline peristiwa. Disini, pers mahasiswa bisa mengambil perannya dengan melahirkan generasi yang bangga untuk membagikan mereka melalui tulisan ke publik.

Bukan sesuatu yang sulit bagi organisasi persma untuk menginstal aplikasi LINE@, registrasi akun persma di facebook dan twitter, atau memiliki website. Yang sulit adalah menciptakan komitmen untuk menghadirkan produk yang tetap berkualitas dengan limit produksi yang pendek agar tantangan pers mahasiswa dalam menyajikan tulisan yang cepat tetap bisa diperhitungkan. Akan tetapi, bukankah cita-cita yang visioner selalu menjadi semangat bagi siapa saja yang mau belajar?

Persma digital juga perlu menentukan target sharing di LINE@ dan facebook, target hits atau rating di website, serta target retweet di twitter dari pembacanya. Persma digital juga perlu melakukan sinkronisasi dari setiap artikel yang dirilis di website dan semua media sosial yang dimiliki. Setiap aktivitas yang dilakukan organisasi memang harus diukur dengan specific, measurable, achieved, attainable, realistic, dan timely. Diatas itu semua, persma digital tetap perlu menegakkan etika jurnalistik agar tidak terbawa arus media digital umum yang sering mengabarkan berita hoax sehingga meresahkan masyarakat. Persma digital yang dikawal oleh generasi terdidik ini harus menjadi pilar dari bangkitnya reformasi media digital saat ini.

Dengan dibukanya keran informasi digital, sekali lagi pers mahasiswa harus dapat memanfaatkannya. Kita tentu berharap, akan lahir sosok baru yang menjadi penerus Soe Hok Gie atau Pramoedya Ananta Toer dari generasi persma digital. Perkembangan teknologi yang pesat dan memunculkan masyarakat digital dapat menjadi terobosan untuk mewujudkan cita-cita persma untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia secara lebih luas.